SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pariwisata
Home » Berita » Segoro Topeng Kaliwungu 2026: Digenjot Jadi Penggerak Ekonomi Lokal Berbasis Pariwisata dan Budaya

Segoro Topeng Kaliwungu 2026: Digenjot Jadi Penggerak Ekonomi Lokal Berbasis Pariwisata dan Budaya

Foto: Ilustrasi

Lumajang, Globalnext.id – Pemerintah Kabupaten Lumajang kini menempatkan kegiatan budaya Segoro Topeng Kaliwungu 2026 tidak sekadar sebagai agenda seni dan pelestarian tradisi, melainkan sebagai penggerak utama ekonomi daerah. Langkah ini diarahkan untuk menjembatani sektor pariwisata dengan berbagai aktivitas produktif masyarakat setempat.

Pendekatan baru ini menjadikan kegiatan budaya sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah yang komprehensif. Fokusnya tidak hanya mengejar peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi lebih utama pada penguatan ekonomi warga melalui keterlibatan lintas sektor usaha yang saling mendukung.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lumajang, Patria Dwi Hastiadi, dalam talkshow daring bersama RRI Jember, Kamis (4/6/2026).

Patria menegaskan, arah pengembangan pariwisata di Lumajang telah bergeser. Kini, prioritas utamanya adalah memperluas manfaat ekonomi yang dihasilkan, bukan hanya berfokus pada tingginya angka kedatangan wisatawan.

Pemkab Probolinggo & Program INOVASI Perluas Akses PAUD Lewat Model TK–SD Satu Atap, Gelar Bimtek Guru

Menurutnya, sektor pariwisata memiliki daya ungkit yang sangat besar karena bersifat lintas sektor. Di dalamnya terhubung berbagai pelaku usaha dan aktivitas ekonomi, mulai dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), jasa transportasi lokal, penyedia akomodasi, pelaku ekonomi kreatif, hingga pemasok beragam produk unggulan daerah.

“Pariwisata tidak bisa dipandang sebagai sektor yang berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat keterkaitan erat dengan UMKM, ekonomi kreatif, transportasi, perdagangan, hingga berbagai jenis usaha masyarakat lainnya yang saling menguatkan,” ujar Patria.

Oleh karena itu, setiap agenda pariwisata, termasuk Segoro Topeng Kaliwungu, disusun tidak hanya untuk menarik wisatawan berkunjung, tetapi juga menjadi sarana penggerak roda ekonomi masyarakat di berbagai bidang usaha.

Lebih lanjut dijelaskan, pola pengembangan pariwisata saat ini juga telah berubah. Tidak lagi memisahkan setiap destinasi secara terpisah, melainkan mendorong keterhubungan antarobjek wisata, pelaku usaha, dan komunitas masyarakat. Tujuannya agar dampak ekonomi yang dihasilkan dapat dirasakan secara merata dan lebih luas.

Dengan pendekatan ini, destinasi wisata, pelaku UMKM, pelaku ekonomi kreatif, serta penyedia jasa pendukung lainnya dapat tumbuh dan berkembang bersama dalam satu ekosistem yang saling menguntungkan.

Selamat ! Warga Desa Tegalbangsri Ranuyoso Menerima 1.018 Durian Kromo Banyumas Dengan Nana Keren Durian Bawor

Patria menambahkan, indikator keberhasilan pariwisata pun kini diukur dengan parameter baru. Bukan semata-mata dari banyaknya wisatawan yang datang, melainkan seberapa besar dampak nyata yang diberikan aktivitas tersebut bagi peningkatan ekonomi masyarakat lokal.

“Yang kami dorong bukan sekadar tempat wisata atau acara yang ramai pengunjung, tetapi bagaimana kegiatan tersebut benar-benar bisa menggerakkan perekonomian warga secara nyata dan berkelanjutan,” tegasnya.

Melalui strategi ini, Segoro Topeng Kaliwungu diharapkan tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan yang ikonik, tetapi juga menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi lokal. Acara ini diharapkan mampu memperkuat sektor pariwisata, memajukan UMKM dan ekonomi kreatif, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (*)

Pewarta: Amir

Polisi Mengaji di Polsek Ranuyoso, Perkuat Keimanan Personel untuk Wujudkan Pelayanan Humanis

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement