Foto: Dr. Aryo Nugroho saat menyampaikan materi pada workshop PGRI Power Jawa Timur di Gedung Guru Surabaya, Selasa (16/6/2026).
SURABAYA, Globalnext.id – Di tengah pesatnya perkembangan Kecerdasan Artifisial (AI), tantangan pendidikan Indonesia bukan lagi sekadar mengadopsi teknologi, melainkan mentransformasi fundamental cara mengajar. Dalam sebuah sesi wawancara eksklusif, Dr. Aryo Nugroho, dosen Teknik Elektro Universitas Adi Buana sekaligus praktisi IT, memaparkan inisiatif revolusioner dari PGRI bertajuk PGRI POWER
yang mengusung Metodologi SPARK. Gerakan nasional ini bertujuan melahirkan 1 Juta Pendidik Digital yang kompeten dalam coding dan AI demi mengamankan masa depan generasi mendatang. Jawa Timur menargetkan berkontribusi 200.000 guru pendidik digitall.
Apa itu Metodologi SPARK?
Aryo menjelaskan bahwa SPARK adalah pendekatan pelatihan terstruktur selama 4 hingga 5 minggu yang dirancang untuk membawa guru dari literasi digital dasar menuju kepemimpinan aktif di kelas. “Moto kami sangat tegas: Transforming the mindset, not just the skillset,” ujar Aryo. Program ini tidak hanya melatih teknis, tetapi mengubah pola pikir guru agar menjadi fasilitator digital yang menginspirasi.
Mengapa Inisiatif Ini Penting Sekarang?
Menurut Aryo, data PISA 2022 menunjukkan bahwa keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) siswa Indonesia masih rendah, dengan kurang dari 1% siswa mampu menjawab soal level 4-6. SPARK hadir untuk mendukung konsep Pembelajaran Mendalam
—sebuah pendekatan yang memuliakan martabat manusia melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik. “Teknologi adalah katalisator untuk menciptakan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan,” tambahnya.

Foto: Dr. Aryo Nugroho
Bagaimana SPARK Diimplementasikan?
Metodologi ini menerapkan Golden Ratio of Learning, yaitu komposisi 40% Teori dan 60% Praktika. Aryo merinci lima fase intensifnya:
1. Stimulate: Membangkitkan visi dan memahami etika AI untuk menyusun Personal Roadmap.
2. Practice: Penguasaan teknis coding berbasis blok dan Prompt Engineering untuk membuat prototipe media pembelajaran.
3. Adapt: Menyesuaikan teknologi ke kurikulum lokal (Matematika, Sains, Seni) melalui pembelajaran berdiferensiasi.
4. Realize: Uji coba langsung di kelas melalui micro-teaching guna mendapatkan data evaluasi nyata.
5. Kindle: Menyebarluaskan nilai kepemimpinan kepada komunitas guru (MGMP/KKG) agar tercipta budaya inovasi berkelanjutan.
Siapa yang Terlibat dan Di Mana Dampaknya Dirasakan?
Inisiatif ini digerakkan oleh PGRI Jawa Timur dan didukung oleh elemen ekosistem mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga mitra industri (DUDIKA). Aryo menegaskan bahwa setiap lulusan SPARK tidak hanya menjadi pengguna akhir, melainkan menjadi “katalis” atau simpul distribusi aktif. Dengan target 1 juta guru, dampak ini diharapkan menjangkau puluhan juta siswa di seluruh pelosok Indonesia.
Kapan Transformasi Ini Berlangsung?
Gerakan ini sedang berlangsung secara masif sebagai respons terhadap era ekonomi digital global. Aryo Nugroho berharap melalui SPARK, guru-guru di Indonesia, dapat segera bermigrasi dari peran pengajar tradisional menjadi aktivator digital yang mampu mengelola proses belajar siswa secara mandiri dan inovatif.
“Kita tidak hanya mencetak guru yang mahir teknologi, tetapi pemimpin yang mampu menyulut api inovasi di setiap ruang kelas di Indonesia,” pungkas Aryo menutup wawancara.(*)
Pewarta: Poerwandi






Comment