SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerpen
Home » Berita » Bersyukur di Atas Kesulitan

Bersyukur di Atas Kesulitan

Foto/Gambar: produk AI

Oleh: Rudy H, S.H. (Bromo Pro Litera)

Probolinggo, Globalnext.id – Hujan turun sejak sore. Jalanan di sebuah kampung kecil tampak basah dan sepi. Di sebuah rumah sederhana berdinding kayu, seorang perempuan bernama Siti duduk di depan meja sambil menghitung uang yang tersisa di dompetnya.

Hanya ada tiga lembar uang sepuluh ribuan.

Siti menarik napas panjang. Besok anaknya harus membayar uang sekolah. Beras di dapur pun tinggal beberapa genggam.

Kejari Lumajang Musnahkan Barang Bukti 54 Perkara, 69 Ribu Pil dan 36,52 Gram Sabu

“Ya Allah… bagaimana aku bisa melewati hari-hari ini?” bisiknya.

Suaminya, Pak Rahman, sudah hampir setahun tidak memiliki pekerjaan tetap. Sesekali ia menjadi buruh angkut di pasar. Jika sedang ramai, ia pulang membawa uang. Jika sepi, ia pulang dengan tangan kosong.

Namun ada satu hal yang tidak pernah hilang dari rumah itu: senyum.

“Bu, nasi masih ada?” tanya anak mereka, Dika, yang baru pulang mengaji.

Siti tersenyum.

Duka Mendalam Mengiringi Wafatnya Ulama Kharismatik Kota Probolinggo KH Abdul Aziz RM

“Masih. Nanti kita makan bersama.”

Dika melihat wajah ibunya yang tampak lelah.

“Ibu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Dika kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah roti kecil yang diberikan oleh gurunya.

Dukung Asta Cita, Polsek Tempursari Pantau Langsung Lahan Jagung Warga

“Ini buat Ibu.”

Siti terdiam. Matanya berkaca-kaca.

“Kenapa diberikan kepada Ibu?”

“Tadi Bu Guru bilang saya anak yang rajin. Katanya, kalau punya makanan, harus berbagi.”

Siti memeluk anaknya erat.

Malam itu mereka makan nasi dengan lauk sederhana berupa telur yang dibagi menjadi tiga. Tidak ada ayam, tidak ada daging, apalagi makanan mewah.

Namun sebelum makan, Pak Rahman mengangkat kedua tangannya.

“Ya Allah, terima kasih hari ini kami masih diberi nasi. Terima kasih kami masih punya rumah untuk berteduh. Terima kasih anak kami masih sehat. Jangan biarkan kami lupa bersyukur hanya karena hidup kami sedang sulit.”

Siti menunduk. Air matanya jatuh.

Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya terlalu sibuk menghitung apa yang tidak dimiliki, sampai lupa menghitung apa yang masih diberikan Tuhan.

Mereka memang tidak punya banyak uang.

Tetapi mereka masih memiliki keluarga.

Mereka masih memiliki kesehatan.

Mereka masih bisa tertawa.

Dan mereka masih memiliki kesempatan untuk berusaha.

Keesokan harinya, Pak Rahman kembali pergi ke pasar. Hari itu ia mendapatkan pekerjaan mengangkat barang. Upahnya tidak besar, tetapi cukup untuk membeli beras dan membayar sebagian uang sekolah Dika.

Sementara Siti mulai membuat gorengan di rumah. Ia menitipkannya di warung-warung sekitar kampung.

Hari demi hari mereka jalani.

Tidak langsung menjadi kaya.

Tidak tiba-tiba terbebas dari masalah.

Namun sedikit demi sedikit, kehidupan mereka berubah.

Setahun kemudian, gorengan buatan Siti mulai dikenal. Ia bahkan menerima pesanan untuk acara pengajian dan pertemuan warga.

Pak Rahman pun mendapatkan pekerjaan tetap sebagai penjaga gudang.

Suatu sore, Siti duduk di depan rumah bersama Dika yang sudah mengenakan seragam sekolah.

“Ibu ingat dulu kita sering makan telur dibagi tiga?” tanya Dika sambil tersenyum.

Siti tertawa kecil.

“Ingat.”

“Dulu kita miskin, ya, Bu?”

Siti memandang anaknya.

“Kita pernah susah. Tapi Ibu tidak mau mengatakan kita miskin.”

“Kenapa?”

“Karena waktu itu kita tetap punya sesuatu yang sangat berharga.”

“Apa?”

“Keluarga. Dan rasa syukur.”

Dika terdiam.

Siti kemudian berkata pelan, “Nak, hidup tidak selalu memberi apa yang kita inginkan. Kadang Tuhan memberi kita kesulitan bukan untuk menghancurkan kita, tetapi untuk mengajarkan kita menjadi kuat.”

Dika mengangguk.

“Jadi kalau nanti aku susah lagi, aku harus tetap bersyukur?”

“Iya. Bersyukur bukan berarti kita menyerah. Bersyukur berarti kita menerima keadaan dengan hati yang tenang, lalu tetap berusaha memperbaikinya.”

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat.

Siti memandang langit dengan senyum.

Ia akhirnya memahami satu hal:

Kesulitan mungkin membuat seseorang menangis, tetapi rasa syukur membuat hati tetap mampu melihat harapan.

Sebab terkadang kebahagiaan bukan tentang memiliki kehidupan tanpa masalah.

Kebahagiaan adalah ketika seseorang tetap mampu berkata, “Terima kasih, Tuhan,” bahkan ketika hidup belum berjalan seperti yang diharapkan.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement