SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerpen
Home » Berita » Cerpen: Energi Kecil Penuh Asa                

Cerpen: Energi Kecil Penuh Asa                

foto: Ilustrasi kios bensin AI

Oleh: Like Lidyawati (Komen Bromo Pro Litera)

Probolinggo,Globalnext.id –  Mentari belum sempat mengusap pucuk-pucuk daun akan tetapi Ika telah membuka mata. Udara subuh masih menggigilkan, jendela-jendela rumah sederhana di ujung kampung juga belum terbuka. Ayam belum selesai berkokok diperaduannya, tetapi suara ember yang dipenuhi air dari kran telah menjadi penanda bahwa beranjaknya Ika dari tempat tidur dimulai terbangun lebih awal dibandingkan anak lain sebayanya.

Usianya baru menginjak sebelas tahun. Ia duduk di bangku kelas lima sekolah dasar namun, kehidupan telah mengajarinya mengenalkan tanggung jawab jauh sebelum ia mengenal arti kemewahan.

“Ika, airnya sudah penuh?” tanya ibunya dari dapur.
“Sudah, Ibu.”
“Kalau begitu, bantu Ibu langsung di dapur ya nduk!” kata ibu.

Sabet Penghargaan Pemkot Probolinggo pada Harkopnas Ke-79, KPRI Subur Jaya Buktikan Pengelolaan Transparan dan Disiplin

Tanpa mengeluh Ika meletakkan embernya dan mencuci tangan, lalu mengenakan celemek lusuh yang warnanya telah pudar dimakan waktu. Di atas meja telah berjajar tepung, sayuran, telur, bumbu, dan beberapa plastik berisi bahan makanan yang sudah dikeluarkan dari tas plastik berwarna merah.
Setiap hari seperti itulah kenikmatan masa kecil yang dialami oleh Ika dari hari ke hari.

Sebelum matahari terbit, ia membantu ibunya menyiapkan dagangan ketika teman-temannya masih terlelap dalam selimut, Ika telah sibuk mengiris bawang, mencuci sayur, mengaduk adonan, membungkus nasi, hingga menyusun makanan ke dalam wadah besar yang akan dibawa menuju kantin kecil di belakang lingkungan sekolah.

Bau bawang goreng bercampur harum nasi hangat memenuhi rumah. Ibunya sering memandang wajah putrinya dengan mata yang berkaca.

“Capek, Nak?” Ika hanya tersenyum.
“Belum, Bu.”

Jawaban itu membuat ibu senang luar biasa, seakan-akan kata lelah tidak pernah tumbuh dalam kamus hidupnya. Selepas semua dagangan siap, Ika membantu mengangkat termos, kotak makanan, dan keranjang berisi jajanan menuju kantin kecil yang berdiri sederhana di belakang kompleks sekolah.

Gelorakan Semangat Literasi: Gandeng PGRI Bromo Pro Litera Diserbu Pelajar di Stand Festival-EKRAF GOR  A. Yani

Kantin itu bukan bangunan megah hanya sebuah ruangan mungil berdinding papan, beratapkan seng, dengan beberapa meja kayu yang mulai kusam, namun  di sanalah keluarga kecil itu menggantungkan harapan.                                                                                                                     
Sebelum bel sekolah berbunyi, semua makanan telah tertata rapi.

“Ika, sekarang masuk kelas.”    
“Iya, Bu.”

Seragam sekolahnya telah dikenakan sejak pagi . Setelah membantu berjualan ia segera mencuci tangan, merapikan rambut, lalu berlari menuju kelas. Di dalam kelas tidak ada yang tahu betapa panjang perjalanan paginya Ika,yang mereka lihat hanyalah seorang anak yang selalu datang tepat waktu rajin dan tidak pernah lalai dengan PR.

Guru-gurunya mengenalnya sebagai murid yang disiplin.Tugas sekolah tak pernah terlambat.Nilainya selalu memuaskan meski belajar malamnya berkurang karena sudah berbagi waktu dengan rutinitas membantu ibu Ani berjualan untuk menambah income keluarga.

Bahkan ketika malam sebelumnya ia masih membantu menjaga kios bensin eceran di dekat rumah.Ayah Ika dikenal sebagai lelaki yang disiplin dan keras dalam mendidik anaknya.Wajahnya tegas dan nada marah jika ada sesuatu  yang menurutnya kurang pas dari sisi penempatan sesuatu baik barang maupun  benda-benda di dalam rumah.

Gelombang Panas di Spanyol Tewaskan lebih 1000 orang: Indonesia siapkan  Satgas Antisipasi Cuaca Ekstrim

Suaranya sangat tegas beliau sangat percaya bahwa kasih sayang bukan hanya pelukan, melainkan juga pendidikan tentang tanggung jawab.

“Ika ! “
“Iya, AYah.”
“Kalau melakukan sesuatu, selesaikan dengan baik dan letakkan pada asal tempatnya biar tidak membingungkan orang lain!”
“Baik Ayah.”
“Kalau berjanji, harus tepati, kalau di sekolah belajar sungguh-sungguh.”
“Iya, Yah.”

Tak pernah ada bantahan. Bukan karena takut semata melainkan karena Ika tahu di balik sikap keras ayahnya tersimpan harapan yang begitu besar. Ayahnya tidak pernah memanjakan anak-anaknya tetapi ia juga tak pernah mengajarkan mereka menyerah.

Sepulang sekolah, teman-temannya bermain petak umpet, bersepeda, atau menikmati sore dengan permainan sederhana.Ika justru mengemasi barang yang masih berantakan sehabis ibu berjualan. Ia membantu mencuci piring,merapikan meja  serta menata kembali piring pada tempatnya

Setelah semua kesibukan di dalam rumah selesai Ia baru menggantikan kakaknya membuka kios bensin eceran kecil yang berada tepat di depan rumah.Botol-botol berisi bensin tersusun rapi di rak kayu. Motor silih berganti berhenti.

“Bensin satu liter, Dik.”
“Baik, Pak.”

Dengan cekatan ia menuangkan bensin menggunakan corong. Menyampaikan uang kembalian sambil mengucapkan terima kasih.Tak sedikit pelanggan yang terkejut mengetahui gadis kecil itu mampu melayani dengan sopan dan teliti.
“Ika rajin sekali.”

Ibunya hanya tersenyum bangga , Hari-hari berjalan seperti air sungai,jualan laris mengalir tidak pernah
berhenti.

Ketika libur sekolah tiba, Ika justru semakin sibuk Ia ikut berbelanja bahan dagangan ke pasar.
Mengangkat kantong belanja yang hampir sebesar tubuhnya.Memilih sayuran segar menghitung kebutuhan ikut belajar menawar harga dan ibunya sengaja mengajarkan semua itu.

“Suatu hari nanti kamu harus bisa berdiri sendiri.” Ika mengangguk.

Ia mendengarkan setiap nasihat seperti menanam benih di dalam hati.Malam adalah waktu ketika banyak anak menikmati acara televisin atau HP, namun di rumah Ika masih membantu mengemas dagangan membantu ibunya.

Ayahnya memandang Ika cukup lama.
“Ayah” sambil mengingat harapan dan mimpi Ika saat berdiam bersama ayahnya.

Ika sering mnyampaikan kalau sudah besar ingin berkuliah ke Malang, di kota Pendidikan yang banyak membawa Mahasiswa menuntut ilmu di sana.

“Kuliah itu mahal,” kata ayahnya.
Ika tersenyum.
“Aku akan menabung.” Ayahnya diam penuh semangat ingin menuruti kemauan anaknya.

Malam itu Ika melihat ayahnya memandang kaleng tabungan lebih lama dari biasanya.Sejak hari itu, Ika semakin tekun menyisihkan uang. Tidak banyak. Kadang dua ribu. Kadang lima ribu. Kadang sepuluh ribu, ketika dagangan sedang ramai. Sedikit demi sedikit. Hari demi hari. Tahun demi tahun. Tabungannya terus bertambah.

Ia tidak pernah membeli jajanan mahal, tidak meminta telepon genggam mesti temannya pada main game di Hp. Ika juga tidak iri melihat teman-temannya memakai tas bagus dan bermerk. Baginya, setiap lembar uang memiliki tujuan. Ia sedang membangun jembatan menuju masa depan.

Waktu bergerak tanpa suara. Ika lulus sekolah dasar dengan nilai membanggakan. Ia melanjutkan ke sekolah menengah pertama. Rutinitasnya tidak berubah. Bangun sebelum fajar membantu memasak dan juga berjualan.

Selepas sekolah Ika berjualan lagi menjaga kios bensin,sambil belajar jika larut dan mulai mengantuk dia segera tidur, esok mengulang semuanya, begitu terus kadang tubuhnya terasa sangat letih, kadang matanya ingin segera terpejam namun setiap kali rasa lelah datang, ia teringat impiannya.

“Aku ingin kuliah.” gumamnya.

Kalimat itu menjadi pelita yang tidak pernah padam banyak orang memandang dan menjadikan contoh tentang kepribadian tangguh, rajin dan disiplin dari Ika sejak kecil.

Anak sekecil Ika sudah bekerja. Namun, mereka tidak melihat bahwa setiap pekerjaan dilakukan dengan penuh cinta, Ibunya tidak pernah memaksa. Ayahnya juga tidak mengeksploitasi, mereka hanya mengajarkan arti kehidupan melalui kerja keras dan disiplin. Di rumah itu, semua saling membantu.Tak ada pekerjaan yang dianggap rendah.Tak ada alasan untuk bermalas-malasan. Suatu sore hujan turun sangat deras, kantin mereka bocor, air menetes ke mana-mana, siswa sekolah tidak begitu rame membeli, dagangan banyak tersisa. Ibunya terduduk diam.

Hari itu mereka merugi.Ika mendekat.

“Besok kita jual lagi, Bu.”
“Tapi modal kita berkurang.”
“Yang penting kita masih bisa berusaha.”
Ibunya memeluk putrinya.

Anak itu ternyata telah memiliki hati yang jauh lebih dewasa dibandingkan usianya.

Ayahnya diam-diam memperhatikan perubahan Ika, suatu malam ia berkata pelan.

“Ika.”
“Iya, Yah.”
“Ayah memang keras ya nduk.”
Ika terdiam seolah mengangguk.

“Tapi Ayah ingin kamu menjadi perempuan yang kuat.”
“Aku tahu.”
“Itu sebabnya Ayah mendisiplinkanmu.”
Ika tersenyum.
“Aku tau marahnya Ayah mengajari aku untuk tangguh dan kuat.”

Untuk kesekian kalinya, lelaki itu mengusap kepala putrinya. Sentuhan yang sederhana namun, terasa hangat seperti matahari setelah hujan panjang.

Tahun demi tahun berlalu. Ika tumbuh menjadi remaja yang semakin tangguh. Guru-gurunya kagum melihat semangat belajarnya. Tak sedikit yang menawarkan bantuan.  Namun, Ika tetap memilih bekerja membantu orang tuanya, baginya ilmu dan kerja keras adalah dua sahabat yang tidak boleh dipisahkan.

Kaleng bekas biskuit kini telah berganti menjadi buku tabungan. Nominalnya perlahan bertambah. Setiap melihat angka itu, Ika tersenyum. Bukan karena merasa kaya. Melainkan karena ia melihat mimpinya semakin dekat.

Hari kelulusan sekolah menengah atas tiba. Namanya dipanggil sebagai salah satu lulusan terbaik. Ibunya menangis. Ayahnya berdiri tegak. Meski wajahnya tetap tenang, kedua matanya menyimpan kebanggaan yang tak sanggup disembunyikan.

Beberapa bulan kemudian, sebuah surat datang.Ika membukanya dengan tangan gemetar. Ia membaca perlahan. Lalu menutup mulutnya.

“Bu…””
Ada apa?”
“Aku diterima kuliah.”
Ibunya langsung memeluknya sambil menangis. Ayahnya mengambil surat itu. Membacanya berulang kali. Lelaki yang selama ini dikenal keras akhirnya menundukkan kepala. Air mata jatuh tanpa suara. hanya dua kata dari Ayahnya.

“calon guru kamu  Ika!” ucapan selamat dari ayah ketika Ika lulus diterima di perguruan Tinggi Negeri yang mencetak calon Guru.

“Selamat,” kata ayahNya berulang kali.

Hari pertama dia mau berangkat ke kota Malang tempat dia berkuliah menjadi hari yang tak pernah dilupakan keluarga kecil itu. Ika mengenakan pakaian sederhana.Tas yang dibawanya bukan barang baru. Namun, langkahnya begitu mantap.
Di kepalanya terlintas ribuan pagi yang ia habiskan mengiris bawang. Ribuan siang melayani pembeli. Ribuan sore menjaga kios bensin. Ribuan malam menghitung uang hasil jualan. Semua perjalanan itu ternyata tidak sia-sia.

“Karena mimpi tidak akan berjalan sendiri.”
“Kalau capek?”
“Capek itu biasa.”
“Kalau gagal?”
“Bangun lagi.”
“Kalau sedih?”
“Ingat orang tua yang selalu berjuang.”

Anak kecil itu mengangguk pelan. Mungkin belum sepenuhnya mengerti. Namun, kata-kata itu kelak akan tumbuh menjadi kenangan. Matahari senja perlahan tenggelam di balik pepohonan. Angin berembus lembut melewati kantin kecil yang kini tampak lebih ramai. Di depan rumah, kios bensin sederhana masih melayani warga seperti dahulu. Tak ada yang benar-benar berubah.

Hanya satu hal yang kini berbeda. Anak perempuan kecil yang dahulu membawa keranjang dagangan dengan tubuh mungilnya telah tumbuh menjadi perempuan berilmu yang tetap rendah hati. Ia memahami bahwa keberhasilan bukanlah hadiah yang turun dari langit. Keberhasilan adalah buah dari ribuan langkah kecil yang dilakukan dengan sabar, jujur, disiplin, dan penuh ketulusan.

Ika belajar bahwa tangan yang terbiasa bekerja tidak akan mudah meminta. Bahwa hati yang terbiasa bersyukur tidak akan mudah mengeluh. Bahwa didikan seorang ayah yang tegas dan kasih sayang seorang ibu yang tak pernah habis telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang kokoh menghadapi kehidupan.

Di setiap lembar buku kuliahnya, seolah tersimpan aroma dapur sederhana tempat ia belajar memasak bersama ibunya. Di setiap ruang kelas yang ia masuki, terbayang kantin kecil tempat ia belajar melayani orang lain dengan senyum. Di setiap cita-cita yang kini semakin tinggi, ada kios bensin mungil yang dahulu menjadi saksi ketekunan seorang anak yang tak pernah mengenal kata menyerah.

Dan ketika seseorang bertanya rahasia keberhasilannya, Ika hanya tersenyum.

“Bermimpilah setinggi langit,” katanya pelan.
“Lalu bangunlah lebih pagi daripada rasa malas, bekerjalah lebih keras daripada rasa lelah, dan tetaplah berdoa lebih lama daripada rasa putus asa. Sebab, mimpi yang dirawat dengan disiplin, kejujuran, dan kerja keras akan menemukan jalannya sendiri menuju kenyataan.”

Senja pun menutup hari dengan semburat jingga yang indah. Di langit yang perlahan menggelap, bintang-bintang mulai bermunculan, seakan menjadi saksi bahwa dari rumah kecil, kantin sederhana, dan kios bensin di tepi jalan, lahirlah sebuah kisah yang membuktikan bahwa harapan tidak pernah memandang seberapa sederhana asal seseorang. Harapan hanya berpihak kepada mereka yang setia berjuang.

nafas lega yang kini bisa dirasakan berkat usaha keras, energi kecil yang tumbuh penuh asa  semuanya tidak pernah sia-sia sampai pada akhirnya menuai buah manis dan pada akhirnya Ika menjadi seorang guru.(*)

Related Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement