Sumber: Ilustrasi AI
Oleh: Like Lidyawati
Probolinggo Kota, Globalnext.id – Ada orang-orang yang namanya tak pernah tertulis dalam sejarah, tetapi jejak langkahnya diam-diam tumbuh menjadi pelajaran hidup bagi banyak orang. Bu Suminah adalah salah satunya.
Sejak matahari masih bersembunyi di balik pucuk-pucuk bambu, perempuan renta itu telah bersiap meninggalkan rumahnya yang sederhana di ujung desa. Kerudung lusuh menutupi rambut yang seluruhnya telah memutih. Sebuah keranjang rotan menggantung di lengannya.
Di dalamnya tertata gulali dengan warna-warna yang menyerupai pelangi, botol-botol dawet yang dinginnya selalu menjadi pelepas dahaga, serta keripik singkong dan pisang yang dibuatnya sendiri dengan kesabaran seorang ibu.
Ia tidak pernah memiliki kendaraan.Yang dimilikinya hanyalah sepasang kaki yang setia, meski usia perlahan menggerogoti kekuatannya. Setiap hari Bu Suminah menjinjing harapan menyusuri jalan desa. Melewati pematang sawah yang menguning. Melewati rumpun bambu yang berbisik diterpa angin. Melewati anak-anak yang berangkat sekolah dengan seragam kebesaran. Melewati para petani yang sedang menuntun cangkul menuju ladang.
Tak seorang pun pernah menghitung berapa kilometer yang telah ditempuh perempuan itu selama puluhan tahun. Namun semua orang mengenal irama langkahnya. Seolah jalan desa itu telah hafal pada bunyi napasnya.
Menjelang tengah hari, ketika matahari menggantung tepat di ubun-ubun, Bu Suminah selalu berhenti di sebuah persimpangan. Di sana tumbuh pohon trembesi tua yang menaungi sebuah bangku semen sederhana. Tempat itu bukan milik siapa-siapa, tetapi menjadi rumah singgah bagi siapa saja yang lelah dan dahaga. Di situlah Bu Suminah meletakkan keranjangnya. Mengusap peluh, meneguk seteguk air, lalu kembali tersenyum kepada siapa saja yang lewat.
Persimpangan itu perlahan menjelma menjadi ruang pertemuan. Anak-anak membeli gulali sambil tertawa riang.Para buruh memesan dawet untuk mengusir haus dan kantuknya karena capek dalam bekerja. Pengendara sepeda berhenti membeli keripik sebagai bekal perjalanan.Ada pula mereka yang sebenarnya tidak ingin membeli apa pun, hanya ingin duduk sebentar mendengar cerita Bu Suminah yang selalu sederhana, tetapi hangat.
Sejak kecil, Dany adalah salah satu anak yang paling akrab dengan persimpangan itu.Ia mengenal Bu Suminah bukan sebagai pedagang.Melainkan sebagai bagian dari perjalanan pulang sekolahnya.
“Sudah makan, Le?” Pertanyaan itu selalu lebih dulu keluar dibanding tawaran
dagangan.
Jika Dany tidak membawa uang, Bu Suminah tetap menyelipkan sebungkus gulali ke tangannya.
“Nanti kalau sudah punya, baru bayar.”
Sering kali utang itu bahkan terlupakan.
Sebab Bu Suminah tidak pernah benar-benar menghitung receh yang hilang. Baginya, senyum anak-anak jauh lebih mahal daripada keuntungan hari itu.
Waktu berjalan tanpa pernah meminta izin Dany tumbuh dewasa. Ia meninggalkan desa untuk menuntut ilmu. Namun setiap kali pulang, persimpangan itu selalu menjadi tempat pertama yang ingin ia lihat.Dan hampir setiap kali pula, Bu Suminah masih duduk di sana. Seolah waktu enggan menyentuh perempuan itu.Yang berubah hanyalah keriput di wajahnya yang semakin dalam.
Suatu sore hujan turun deras. Dany melihat Bu Suminah memeluk keranjang dagangannya agar tidak kebasahan.Tubuhnya sendiri menggigil. Namun ia tetap tersenyum kepada orang-orang yang berhenti berteduh.
Pemandangan itu menorehkan luka kecil di hati Dany.Ia mulai memahami bahwa ada perjuangan yang tak pernah terdengar suaranya. Perjuangan yang tidak pernah dipamerkan. Perjuangan yang hanya berjalan perlahan, dari satu langkah menuju langkah berikutnya.
Hari-hari berlalu.Usaha Dany berkembang. Ia dikenal sebagai pengusaha muda yang berhasil membangun usahanya dari nol. Banyak orang mengira keberhasilannya lahir dari kecerdasan. Padahal jauh di dasar hatinya, ada satu sosok yang selalu ia kenang. Bu Suminah. Perempuan tua yang mengajarkan arti tekun tanpa pernah mengucapkan nasihat panjang.
Hingga suatu pagi, persimpangan itu mendadak sunyi. Bangku semen kosong.Tak ada keranjang rotan. Tak ada gulali.Tak ada dawet.Tak ada senyum yang biasanya menyambut siapa saja.
Hari berganti hari.Persimpangan itu tetap sepi.Barulah kabar itu datang.Usia telah meminta Bu Suminah berhenti. Kakinya tak lagi mampu mengangkat tubuh yang telah renta. Tangannya mulai gemetar. Dokter memintanya beristirahat.
Dany berdiri lama di bawah pohon trembesi.Entah mengapa persimpangan itu terasa kehilangan jiwanya. Untuk pertama kalinya ia menyadari, seseorang bisa begitu berarti justru ketika ia tak lagi hadir.
Sore itu Dany mendatangi rumah Bu Suminah. Rumah kecil berdinding anyaman bambu itu tampak lebih sunyi daripada biasanya. Keranjang rotan masih tergantung di dinding. Seolah sedang menunggu pemiliknya kembali berjalan. Bu Suminah tersenyum ketika melihat Dany.
“Persimpangannya sepi ya, Le?” Kalimat itu membuat dada Dany sesak.Ia hanya mengangguk.
Sejak hari itu, Dany tak lagi menunggu bertemu di persimpangan.Ia memilih datang ke rumah Bu Suminah. Membawakan buah. Membawakan beras. Kadang hanya duduk menemani sambil mendengar kisah-kisah lama yang berulang.
Aneh, kisah yang sama tak pernah terasa membosankan. Karena setiap kenangan selalu memiliki cara baru untuk menghangatkan hati. Ramadan menjadi waktu yang paling dinanti. Beberapa hari menjelang bulan suci, Dany selalu datang. Ia membawa sembako, pakaian baru, dan sedikit rezeki yang ia sisihkan.
Namun Bu Suminah selalu berkata lirih,
“Jangan banyak-banyak, Le. Masih banyak yang lebih membutuhkan.” Kalimat itu kembali membuat Dany belajar tentang kerendahan hati.
Padahal perempuan tua itu hidup dalam keterbatasan.Tetapi pikirannya selalu dipenuhi kepedulian kepada orang lain.
Setiap Ramadan mereka berbuka bersama. Kadang hanya dengan kolak pisang dan segelas teh hangat. Kadang hanya dengan gorengan yang dibuat tetan.
Namun kebersamaan itu terasa jauh lebih mewah daripada hidangan di restoran mana pun. Sebab yang mengenyangkan bukan hanya makanan. Melainkan rasa syukur. Dany sering memandangi wajah Bu Suminah yang mulai dipenuhi garis-garis usia.Di matanya, perempuan itu bukan lagi sekadar penjual gulali.Ia adalah sekolah kehidupan.
Tempat ia belajar bahwa kerja keras tak membutuhkan panggung.Bahwa keikhlasan tak memerlukan tepuk tangan.Bahwa kemuliaan seseorang sering kali lahir dari pekerjaan yang dianggap paling sederhana.
Kini, setiap kali Ramadan tiba, langkah Dany selalu menuju rumah kecil di ujung desa sebelum ia membagikan bantuan kepada warga lainnya.Ia selalu memulai kebaikan dari rumah Bu Suminah.Bukan karena Bu Suminah paling membutuhkan.
Melainkan karena dari perempuan renta itulah ia pertama kali belajar arti memberi.
Persimpangan jalan itu kini masih ada. Bangku semen itu tetap berdiri. Pohon trembesi masih menaungi para pejalan yang ingin beristirahat. Namun bagi Dany, persimpangan itu bukan lagi sekadar tempat berhenti. Ia adalah ruang kenangan.
Tempat seorang perempuan tua pernah mengajarkan bahwa hidup tidak diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah, melainkan seberapa tulus ia menjalani setiap langkahnya.
Dan setiap kali angin sore berembus melewati persimpangan itu, Dany seolah masih melihat Bu Suminah duduk di sana. Dengan keranjang rotannya. Dengan gulali warna-warni. Dengan dawet yang menyegarkan Dengan keripik buatannya. Dengan senyum yang tak pernah meminta balasan.
Sebab manusia boleh berhenti berjalan.
Namun kebaikan yang ditinggalkannya akan selalu menemukan jalan pulang ke hati orang-orang yang pernah merasakannya.
Ada satu kebiasaan Bu Suminah yang tak pernah berubah sejak dahulu. Setiap kali dagangannya hampir habis, ia tidak pernah langsung pulang. Ia justru duduk lebih lama di persimpangan jalan, memandangi lalu-lalang orang yang pulang dari sawah, anak-anak yang berlarian mengejar layang-layang, dan langit sore yang perlahan berubah jingga.
“Jalan ini mengajarkan saya banyak hal,” ucapnya suatu hari kepada Dany.
“Semua orang sedang menuju tempat yang berbeda. Ada yang bergegas, ada yang pelan. Tapi semuanya sedang berjuang.” Kalimat sederhana itu tertanam begitu dalam di hati Dany.
Sejak saat itu, setiap kali hidup menghadapkan dirinya pada kegagalan, ia selalu teringat pada persimpangan itu. Ia teringat bagaimana Bu Suminah tidak pernah menghitung berapa langkah yang harus ditempuh, melainkan hanya memastikan bahwa hari itu ia tetap melangkah.
Ketika usahanya pernah mengalami kerugian besar, banyak orang menyarankan agar ia menyerah. Namun bayangan seorang perempuan tua yang tetap berjalan sambil menjinjing keranjang di bawah terik matahari seolah hadir di hadapannya.
“Kalau Bu Suminah mampu melawan lelah setiap hari, mengapa aku harus kalah oleh rasa putus asa?” bisiknya kepada diri sendiri.
Dany bangkit kembali. Bu Suminah tidak pernah mengajarkan teori kehidupan. Ia mengajarkannya melalui teladan. Melalui tangan yang kasar karena bekerja. Melalui kaki yang tetap melangkah meski dipenuhi rasa nyeri. Melalui senyum yang tetap mengembang meskipun hidup tak selalu ramah.
Setiap menjelang Ramadan, Dany datang membawa sembako, buah-buahan, dan kebutuhan sehari-hari. Bukan untuk membalas budi, sebab ia tahu kebaikan tak pernah bisa diukur dengan materi. Ia datang karena ingin menjaga tali kasih yang dahulu tumbuh di persimpangan jalan.
Di hadapan Bu Suminah, Dany selalu merasa kembali menjadi anak kecil yang menerima gulali tanpa ditanya apakah ia mampu membayar atau tidak.
Kini ia mengerti, gulali yang diberikan Bu Suminah bukan sekadar makanan manis. Di dalamnya tersimpan rasa kasih, keikhlasan, dan keyakinan bahwa sekecil apa pun kebaikan akan tumbuh menjadi kenangan yang menguatkan seseorang di masa depan.
Maka setiap kali Dany diminta berbicara tentang rahasia kesuksesannya, ia tidak pernah menunjukkan foto kantor, piala penghargaan, ataupun laporan keuntungan perusahaannya. Ia justru memperlihatkan sebuah foto usang seorang perempuan tua dengan keranjang rotan di tangannya.
“Lihatlah,” katanya pelan, “di balik setiap keberhasilan seseorang, sering kali ada sosok sederhana yang tidak pernah dikenal banyak orang.
Bagi saya, Bu Suminah adalah guru kehidupan. Beliau mengajarkan bahwa rezeki dicari dengan langkah yang jujur, keberhasilan dibangun dengan kesabaran, dan kemuliaan lahir dari hati yang tak pernah lelah berbagi.”
Sejak saat itu, setiap kali Dany melewati persimpangan jalan yang dahulu menjadi tempat Bu Suminah beristirahat, ia selalu menundukkan kepala sejenak. Bukan untuk mengenang kesedihan, melainkan untuk mengingat bahwa dari persimpangan sederhana itulah arah hidupnya pernah menemukan makna.(*)






Comment