Foto: Dewi Cahyaningsih, S.Pd (Guru SDN Kanigaran 3 Kota Probolinggo)
Oleh: Dewi Cahyaningsih, S.Pd (Guru SDN Kanigaran 3 Kota Probolinggo)
Probolinggo Kota , Globalnext.id – Perkembangan teknologi digital yang begitu cepat sering kali menimbulkan rasa khawatir di tengah masyarakat, termasuk dalam dunia pendidikan. Banyak orang bertanya-tanya bagaimana masa depan peserta didik di tengah kemajuan teknologi yang semakin canggih.
Kehadiran Artificial Intelligence atau AI kini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari pencarian informasi, komunikasi, hingga proses pembelajaran. Oleh karena itu, guru dituntut untuk mampu memahami dan memanfaatkan teknologi secara bijak agar pendidikan tetap berjalan efektif dan bermakna.
Dalam era digitalisasi AI, peran guru tidak lagi hanya sebagai penyampai materi pembelajaran. Guru kini menjadi perancang pengalaman belajar yang kreatif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Teknologi AI dapat membantu guru dalam berbagai hal, seperti menyusun bahan ajar, mengelola administrasi pembelajaran, hingga menganalisis perkembangan belajar siswa. Namun demikian, teknologi tidak akan pernah menggantikan peran manusia sepenuhnya, terutama dalam membentuk karakter, memberikan motivasi, dan menghadirkan empati kepada peserta didik.
Transformasi peran guru di era digital perlu dipahami sebagai peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Guru harus mampu menjadi kurator pengetahuan dengan memilah informasi yang benar dan relevan di tengah derasnya arus informasi digital.
Selain itu, guru juga berperan sebagai fasilitator pemikiran kritis agar siswa tidak langsung mempercayai semua informasi yang diperoleh dari internet atau AI. Peserta didik perlu dibimbing untuk mampu menganalisis mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara bijak.
Di sisi lain, guru tetap memiliki peran penting sebagai pendamping karakter yang memberikan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan dukungan emosional kepada siswa.
Seiring perkembangan zaman, literasi guru juga harus semakin berkembang. Literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup literasi digital, literasi data, dan literasi manusiawi.
Literasi data membantu guru memahami capaian belajar siswa sehingga strategi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Literasi teknologi memungkinkan guru mengoperasikan berbagai platform digital dan menggunakan AI secara bertanggung jawab.
Sementara itu, literasi manusiawi membantu guru memahami kondisi psikologis dan karakter setiap siswa agar proses pembelajaran berjalan lebih inklusif dan adil.
Pemanfaatan teknologi AI dalam pendidikan juga membuka peluang terciptanya pembelajaran yang lebih adaptif. Materi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan dan gaya belajar masing-masing siswa.
Dengan dukungan teknologi digital, akses pendidikan juga dapat menjangkau daerah terpencil, terdepan, dan tertinggal sehingga kesenjangan pendidikan dapat diminimalkan. Hal ini menjadi langkah penting dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua lapisan masyarakat.
Untuk mendukung penguatan kompetensi guru, diperlukan kerja sama antara pemerintah, sekolah, dan berbagai lembaga pendidikan. Program pelatihan berbasis praktik, workshop, seminar, serta bimbingan teknis mengenai penggunaan teknologi dan AI perlu terus dilakukan secara berkelanjutan. Selain itu, budaya belajar mandiri juga harus ditanamkan kepada guru agar terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kehadiran komunitas belajar seperti KKG, kombel, dan komunitas praktisi juga menjadi sarana penting bagi guru untuk saling berbagi pengalaman dan praktik baik dalam pembelajaran.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi AI tidak perlu ditakuti, melainkan harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan mutu pendidikan. Guru yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi akan lebih siap menghadapi tantangan pendidikan masa depan.
Dengan memasukkan kecanggihan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan, guru akan tetap menjadi ujung tombak dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas, merata, dan inklusif bagi seluruh anak bangsa.(*)




Comment