Foto : kepala BBPMP Jatim Dr. Praptono, M.Ed., Kepala Disdikbud Kota Probolinggo Dr. Siti Romlah, S.Si., M.Pd., Kepala SMP Negeri 9 Qamaruddin S.Pd.I., M.Pd.I. Serta Pengawas SMP Dra. Agus Windarti, M.Pd.
saat launching 1000 buku karya siswa dan guru di SMP Negeri 9 Probolinggo.
Kota Probolinggo, Globalnext.id – Momen penuh suka cita bagi insan pendidikan muncul di kota Probolinggo. Ketika SMP Negeri 9 berhasil melauncing 1000 judul buku karya siswa dan guru pada Senin (13/4/2026), pada upacara bendera di halaman SMP Negeri 9 Probolinggo, Hal lni menandai bahwa “kemampuan inteletual” telah tumbuh berkembang di kota Probolinggo. Khususnya kemampuan bernalar, merencanakan, berfikir abstrak, memahami gagasan, menggunakan bahasa dan belajar dengan cepat dari pengalaman.
Momen ini menjadi istimewa dengan hadirnya Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Jawa Timur (BBPMP) Dr. Praptono, M.Ed. dan memimpin langsung jalannya upacara, didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Probolinggo Dr. Siti Romlah, S.Si., M.Pd. serta Kepala SMP Negeri 9 Qamaruddin S.Pd.I., M.Pd.I.
Acara launching yang berlangsung meriah ini juga dihadiri oleh para guru, siswa, serta sejumlah tamu undangan yang memberikan apresiasi atas capaian luar biasa itu.
Acara ini masuk program “Mertamulah” yang merupakan program inspiratif BBPMP Jatim dimana SMPN 9 ketempatan sebagai tuan rumah.
Usai upacara, di lanjutkan dialog di studio Potcast SMPN 9 dengan dipandu host dari BBPMP Jatim wiwik setyawati.
Pada kesempatan itu Kepala BBPMP Jatim Praptono mengawali menjawab pertanyaan Host terkait hal khusus atas capaian 1000 judul karya tulis Siswa dan guru di SMP Negeri 9 Probolinggo.
“Saya Ada satu ungkapan kata yang cocok untuk SMP Negeri 9 ini, Waowww,” ujar Praptono.
“Kebayang ya, bagaimana kita bisa menggerakkan Eko sistem dilingkungan sekolah, menghasilkan karya dalam jumlah besar, tetapi dalam durasi yang terukur,” tambahnya.
Menurut Praptono, literasi itu sendiri merupakan isu nasional dan sudah ada pada kebijakan pemerintahan yang lalu. Pada waktu itu dikatakan bahwa Indonesia itu lemah dibidang literasi, numerasi dan karakter. Kementerian yang sekarang juga menempatkan literasi sebagai program prioritas nasional.
Ketika Ia tahu di Kota Probolinggo ini ada sebuah gerakan besar, meskipun berpikirnya di level lokal Kota Probolinggo, namun melihat kecepatan dan banyaknya naskah yang ditulis, menurutnya hal itu bukan level lokal lagi, levelnya sudah nasional.
BBPMP berkepentingan untuk menggunakan inisiatif yang sudah menampakkan hasilnya di SMP Negeri 9 sebagai contoh praktek yang baik dilevel nasional. Ke depan Ia berharap contoh yang baik itu akan menginspirasi SMP yang lain
Terkait gerakan literasi yang menjadi prioritas secara nasional.
Di kesempatan yang sama, Kepala Disdikbud Kota Probolinggo Siti Romlah menyampaikan, bahwa Pemerintah Kota Probolingo sangat mendukung gerakan Literasi Nasional.
“Pemerintah kota probolinggo sangat mendukung gerakan literasi nasional, nah untuk memenangkan persaingan global, maka, menangkanlah literasi,” ujarnya.
Lebih jauh Siti Romlah menerangkan, sejak tahun 2022, Disdikbud Kota Probolinggo mulai konsentrasi untuk kemajuan literasi di Kota Probolinggo, diawali dengan gerakan “Gemuruh” atau gerakan menulis untuk guru hebat. Dengan target satu tahun mencetak 100 hingga 200 karya guru ber ISBN.
Disamping itu ada juga Inovasi “Tugu Burita” atau satu guru satu buku cerita.
Menurutnya, siswa tidak bisa berliterasi tanpa contoh keteladanan dari gurunya. Bahkan harus di mulai dari Kadisdikbud memberikan contoh hasil tulisannya. Ketika Ia membersamai siswa saat proses menulis, Kepala Disdikbud Kota Probolinggo juga menulis dan sudah menghasilkan 2 buah buku. Itulah bentuk keteladan yang Ia canangkan.
Gerakan yang ada di SMPN 9 itu sebenarnya didahului gerakan di Disdikbud dan juga dilakukan para guru di masing-masing sekolah saat itu, dan berbuah dapat penghargaan sebagai perangkat daerah paling aktif dalam bidang penerbitan buku se Jawa Timur. Penghargaan itu diserahkan sendiri oleh Gubernur.
Siti Romlah juga menyampaikan bahwa literasi harus menyentuh akarnya, yaitu siswa, untuk dikawal dalam gerakan menulis. Tahun 2025 Disdikbud mulai dengan gerakan satu guru satu inovasi, sehingga Disdikbud Kota Probolinggo berhasil meraih penghargaan rumah inovasi guru dengan rekor muri dengan 3262 inovasi.
Tidak berhenti sampai disitu, Kepala Disdikbud sedang berencana membuat gerakan yang lebih masif dikalangan peserta didik, ternyata sudah didahului gerakan siswa menulis di SMP Negeri 9.
“Smp Negeri 9 di bawah komandannya Bapak Qomar ini luar biasa, Saya menargetkan 100, dia menargetkan diri, guru dan siswa itu 1000, wah luar biasa,” ucapnya.
Sementara itu, menurut Didik Purwandi selaku praktisi penulis berita sekaligus pemerhati pendidikan mengatakan tantangan terbesar dalam menulis bukan pada prosesnya, melainkan saat pertamakali memulai. Ia menegaskan bahwa menulis tidak perlu menunggu datangnya inspirasi, melainkan harus diawali dengan upaya aktif mencari ide dan bahan tulisan dari berbagai peristiwa di sekitar.
“Menulis itu soal kebiasaan. Ketika kita fokus, berpikir keras, dan peka terhadap lingkungan, maka ide akan ditemukan dimana saja,” ujarnya.
Pada segmen lanjutan potcast, Kepala SMP Negeri 9 memberikan penjelasan yang cukup menarik, yakni ketika muncul keresahan para guru saat Buku sudah terkumpul lebih dari seribu.
Keresahan itu terkait bagaimana buku itu bisa dibaca oleh masyarakat luas. Bagaimana cara mempublikasikannya.
Maka melalui diskusi kepala sekolah dengan para guru, muncullah instruksi untuk membuat aplikasi semacam digital library (perpustakaan digital). Maka
lahirlah aplikasi “SIPINTAR” dengan sekali klik, penikmat buku dapat melihat judul-judul buku untuk dipilih dan dibaca.
“Setelah terkumpul buku sebanyak 1056 buku, kami bingung apa yang harus menjadi medianya. Maka kami menginstruksikan teman-teman yang ada di SMP Negeri 9 untuk membuatkan aplikasi, jadilah
Aplikasi Sipintar,” terang Qamaruddin.
“Sipintar adalah sejalan dengan digital library yang bisa diakses oleh masyarakat bahkan seluruh dunia, yang penting punya linknya di youtube berupa sipintar 9.com, seluruh dunia bisa mengakses karya anak-anak itu semua,” tambahnya.
Lebih lanjut Qamarruddin menjelaskan tantangan yang dihadapi dalam proses mewujudkan gerakan menulis siswa, yakni saat mengawali dan ketika mencetuskan gagasan siswa menulis, hal itu dikatakan nonsen.
Namun Qomar tidak patah semangat, Ia terus berusaha meyakinkan khususmya kepada guru bahasa Indonesia, serta guru yang lain. Akhirnya tercapailah satu suara dan ditunjuklah seorang guru bernama Sandi sebagai Ketua “Smart Group”.
Senada dengan Qamaruddin, sandi Purwanto, SE., M.Pd. mengatakan tantangan terbesar yakni pada saat mengawali gerakan siswa menulis. Tapi ada tantangan lebih khusus yaitu bagaimana membimbing menulis bagi anak berkebutuhan khusus.
“Kecuali seorang anak yang punya kendala berkebutuhan khusus, maka pendampingannya mungkin lebih intensif dengan melibatkan orang tua,” jelas Sandi.
Segmen lanjutan potcast ini disamping menghadirkan kepala sekolah SMP Negeri 9 Qamaruddin dan ketua Smart Group Sandi Purwandi, SE., M.Pd. juga dihadirkan orangtua siswa bernama Wiwin dan dua siswa berprestasi dalam bidang menulis Aurel dan Dian. (*)
Pewarta : Joko




Comment