Foto: Wakil Ketua Komisi X DPR RI Maria Yohana Esti Wijayati saat Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Selasa (19/5/2026)
Jakarta, Globalnex.id – Anggota Komisi X DPR RI, Maria Yohana Esti Wijayati, memberikan evaluasi kritis terhadap materi pembelajaran dalam buku pegangan siswa kelas 1 Sekolah Dasar (SD).
Evaluasi tersebut disampaikan saat rapat kerja bersama Kemendikdasmen, Selasa (19/5/2026)
Di Gedung Parlemen.
Pada kesempatan itu Maria Yohana Esti Wijayati membahas hasil kunjungan kerja ke Tanjung Balai Karimun.
Dalam keterangannya, Maria Yohana Esti Wijayati menyoroti soal-soal matematika pada buku pegangan siswa kelas 1 SD yang dinilai belum sesuai dengan kemampuan dasar anak.
Menurutnya, banyak soal matematika yang disajikan dalam bentuk cerita panjang sehingga menyulitkan siswa yang sebagian besar masih berada pada tahap belajar membaca.
Ia mencontohkan, terdapat soal matematika yang mengharuskan siswa membaca kalimat seperti “Adi mempunyai telur sekian” dan seterusnya. Padahal, kata dia, siswa kelas 1 SD pada umumnya belum lancar membaca dan memahami isi cerita. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab lemahnya pemahaman matematika pada anak.
Lebih lanjut ia mengatakan biasanya pembelajaran dasar matematika menggunakan gambar untuk memberikan pemahaman dasar.
“Biasanya menggunakan gambar
misalnya gambar manggis tiga ditambah gambar manggis dua, berarti ketemunya manggis 5, begitukan ya, ini klas satu,” ujarnya.
Maria menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap penggunaan buku pegangan siswa di sekolah-sekolah. Ia mempertanyakan apakah kesalahan terjadi pada proses penyusunan referensi buku, penerapan kurikulum, atau pengawasan dari dinas pendidikan dan pihak sekolah.
Menurutnya materi pembelajaran harus disesuaikan dengan tahap perkembangan kemampuan siswa, terutama dalam kemampuan membaca dan memahami konteks.
Sebab, soal cerita dalam matematika tidak hanya menuntut kemampuan berhitung, tetapi juga kemampuan memahami narasi, menganalisis informasi, serta menerjemahkannya ke dalam operasi matematika.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pengawasan Dari Dinas terkait maupun sekolah untuk memastikan materi pembelajaran kelas 1 SD benar-benar ramah anak dan sesuai tahap perkembangan sesuai tingkatannya.
Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi berkala terhadap buku ajar yang digunakan di sekolah agar tidak terjadi ketidaksesuaian antara materi dan kemampuan siswa.
Dalam kebijakan pendidikan dasar, pemerintah sebenarnya menekankan pembelajaran yang menyenangkan, kontekstual, dan bertahap bagi siswa kelas awal SD.
Pada fase awal pendidikan dasar, siswa diharapkan lebih banyak belajar melalui pengenalan visual, permainan edukatif, gambar, benda konkret, serta aktivitas interaktif yang membantu anak memahami konsep dasar secara sederhana.
Pendekatan tersebut bertujuan agar siswa tidak mengalami tekanan belajar berlebihan pada usia dini. Sebab, kemampuan literasi membaca siswa kelas 1 masih dalam tahap pengembangan, sehingga metode pembelajaran yang terlalu kompleks justru berpotensi membuat anak
kehilangan minat belajar dan sulit memahami materi pelajaran.
Maria menegaskan bahwa kualitas buku pegangan siswa harus menjadi perhatian serius.. Ia berharap dinas pendidikan, sekolah, dan penyusun buku ajar dapat lebih selektif dalam menentukan materi pembelajaran yang akan digunakan di kelas.
“Untuk Penjaminan mutu, buku pegangan itu menjadi acuan, kami mohon diperhatikan dengan baik” tegasnya..
Ia berpendapat sebaiknya anak-anak tidak dipaksa memahami soal cerita yang rumit ketika kemampuan membacanya masih tahap perkembangan.
Evaluasi terhadap buku ajar tersebut diharapkan dapat menjadi bahan perbaikan bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan demi meningkatkan kualitas pembelajaran dasar di Indonesia, khususnya bagi siswa kelas awal SD agar proses belajar menjadi lebih efektif, menyenangkan, dan sesuai dengan perkembangan usia anak.(*)
Pewarta: Saptono




Comment