Foto : DWI ROHYATI, S.Pd.SD.M.PD, (Kepala Sekolah SDN Kanigaran 3)
Oleh: DWI ROHYATI, S.Pd.SD.M.PD. (Kepala SDN Kanigaran 3)
Probolinggo , Glibalnext.id – Dunia pendidikan sedang mengalami pergeseran tektonik. Papan tulis kayu telah berganti menjadi layar interaktif, buku teks fisik kini berdampingan dengan e-book, dan ruang kelas tidak lagi dibatasi oleh empat dinding bata.
Di tengah badai transformasi teknologi ini, ada satu elemen kunci yang menentukan keberhasilan pendidikan: Guru.
Ada sebuah pameo lama yang mengatakan, “Jika guru berhenti belajar, mereka harus berhenti mengajar.”
Ungkapan ini tidak pernah se-urgensial sekarang. Di era digital, belajar bagi seorang guru bukan lagi sekadar pilihan untuk mengisi waktu luang atau syarat kenaikan pangkat, melainkan sebuah kewajiban mutlak demi kelangsungan masa depan generasi bangsa.
Siswa yang dihadapi guru saat ini adalah digital natives—mereka yang lahir dan tumbuh besar bersama gawai, internet cepat, dan kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, sebagian besar guru adalah digital immigrants yang harus beradaptasi dengan teknologi di usia dewasa.
Jika guru menolak untuk belajar dan menutup mata dari perkembangan teknologi, akan terjadi jurang pemisah (gap) yang besar dalam komunikasi dan metode pembelajaran. Guru yang gagap teknologi (gaptek) akan kesulitan memahami ekosistem berpikir siswa. Dengan terus belajar, guru dapat berbicara dengan “bahasa” yang sama dengan siswa, sehingga materi pelajaran dapat disampaikan secara lebih relevan dan menarik.
Dulu, guru adalah satu-satunya “sumber kebenaran” dan informasi di dalam kelas. Sekarang, perperan tersebut telah diambil alih oleh mesin pencari seperti Google dan asisten AI. Siswa bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaan ilmiah apa pun dalam hitungan detik.
Apakah ini berarti peran guru tergantikan? Tentu tidak. Namun, perannya harus bertransformasi. Di era digital, guru tidak lagi bertugas mencekoki siswa dengan hafalan data, melainkan menjadi fasilitator, kurator informasi, dan mentor. Guru harus belajar bagaimana cara mengajarkan siswa berpikir kritis (critical thinking), menyaring informasi yang valid dari hoaks, dan memanfaatkan teknologi secara etis. Keterampilan membimbing seperti ini tidak bisa digantikan oleh algoritma secanggih apa pun.
Teknologi menyediakan alat (tools) yang luar biasa kaya untuk membuat kelas menjadi lebih hidup. Mulai dari platform gamifikasi seperti Kahoot dan Quizizz, visualisasi 3D dengan Augmented Reality (AR), hingga penggunaan Learning Management System (LMS) seperti Google Classroom. Melalui digitalisasi, guru juga bisa menerapkan pembelajaran yang dipersonalisasi (personalized learning).
Dengan bantuan data digital, guru dapat menganalisis kelemahan dan kekuatan setiap siswa secara lebih akurat, lalu memberikan materi yang sesuai dengan kecepatan belajar masing-masing anak. Semua inovasi ini hanya bisa terwujud jika guru meluangkan waktu untuk belajar mengoperasikannya.
Pendidikan yang terbaik adalah melalui keteladanan. Bagaimana kita bisa menuntut siswa untuk tekun belajar, kreatif, dan adaptif, jika gurunya sendiri enggan mempelajari hal-hal baru? Ketika seorang guru menunjukkan antusiasme untuk menguasai aplikasi baru, menghadiri webinar, atau berdiskusi tentang tren teknologi pendidikan, siswa akan melihat sebuah contoh nyata dari konsep lifelong learning (belajar sepanjang hayat). Sikap mental adaptif inilah yang sangat dibutuhkan oleh siswa untuk bertahan di abad ke-21 yang penuh ketidakpastian.
Memang, mengubah pola pikir (mindset) dan meluangkan waktu di tengah kesibukan mengajar, mengoreksi, dan mengurus administrasi bukanlah hal yang mudah. Banyak guru merasa kewalahan dengan cepatnya perubahan teknologi.
Oleh karena itu, proses belajar guru di era digital tidak harus dilakukan sendiri secara kaku. Guru dapat memanfaatkan:
- Komunitas Praktisi: Mengikuti komunitas seperti MGMP/KKG (Musyawarah Guru Mata Pelajaran/Kelompok Kerja Guru) atau komunitas guru digital untuk saling berbagi tips.
- Micro-learning: Belajar lewat video tutorial singkat di YouTube atau TikTok yang fokus pada satu keterampilan praktis (misal: cara membuat infografis di Canva).
- Pelatihan Mandiri: Memanfaatkan platform resmi pemerintah atau lembaga pendidikan yang menyediakan modul belajar fleksibel.
Digitalisasi bukanlah musuh bagi guru, melainkan sebuah jembatan emas untuk melipatgandakan dampak pengajaran. Teknologi adalah alat yang dahsyat, namun di tangan guru yang tidak mau belajar, alat tersebut akan menjadi sia-sia. Menjadi guru di era digital berarti berani menurunkan ego untuk menjadi “murid” kembali. Hanya dengan cara itulah, guru dapat terus berdiri tegak di depan kelas, menuntun generasi muda menuju masa depan yang cerah, dan memastikan diri mereka tetap relevan serta tidak tergerus oleh zaman. (*)




Comment