
Foto: Guru SLB PGRI Wonoasih Kota Probolinggo Hayatun Nufus bersama murid asuhnya Aifin.
Oleh: Hayatun Nufus, S.Pd (Guru SLB PGRI Wonoasih Kota Probolinggo).
Probolinggo Kota, Globalnext.id – Di setiap sudut kelas SLB PGRI Wonoasih, pernah ada jejak tawa yang begitu khas. Ia milik Aifin Damara Cahya Saputra, seorang anak istimewa dengan hambatan intelektual (tunagrahita) yang bagi kami, adalah guru kehidupan.
Aifin pernah menjadi “pelukis” keceriaan di sekolah; ia periang, luwes dalam pertemanan, dan selalu punya cara untuk menghidupkan suasana dengan canda jenakanya.
Namun, di balik senyum yang ia bagikan, ada guratan kisah perjuangan yang tak kasat mata. Sebagai anak yatim sejak bayi, Aifin adalah bungsu dari tiga bersaudara yang tumbuh dalam himpitan ekonomi. Ketegaran ibunya sebagai pejuang nafkah di Malaysia menorehkan rindu yang dalam.
Ujian itu memuncak saat usia Aifin menginjak lima tahun; ia sempat kehilangan kemampuan berjalan dan akrab dengan kejang yang menyiksa. Saat itu, kasih sayang sang ibu menjadi mujizat yang membawa Aifin kembali bangkit dan melangkah ke sekolah.
Sayangnya, roda kehidupan sering kali tak berpihak sebagaimana yang diinginkan. Ketika sang ibu harus kembali merantau demi masa depan anak-anaknya, guncangan psikologis itu tak terelakkan.
Aifin yang tadinya begitu lancar berbicara, perlahan mulai kehilangan dunianya. Ia bukan lagi anak yang periang; ia menjadi sosok yang tertutup oleh kemarahan, sebuah bentuk frustrasi yang mungkin tak mampu ia terjemahkan dengan kata-kata.
Dalam sunyinya kelas, ia sering kali hanya memanggil satu nama dengan nada yang menyayat hati: “Mama… Mama…” Panggilan itu bukan sekadar ocehan, melainkan doa sekaligus jeritan kerinduan dari seorang anak yang merasa separuh jiwanya hilang.
Kami, para gurunya, hanya bisa menatap nanar, merasakan betapa berat beban yang harus dipikul pundak kecil itu.
Ujian itu belum usai. Ketika kabar tentang Aifin menghilang dari sekolah, pesan singkat dari sang ibu di Malaysia membawa kabar yang membuat kami terdiam. Aifin harus menjalani operasi besar akibat tumor di kaki kirinya.
Di tengah kabar duka itu, kami menemukan satu potret kemanusiaan yang menyejukkan. Ternyata, Aifin tidak berjuang sendirian. Ada sosok Mbak Riza, wanita berhati emas yang dengan penuh kasih sayang merawat Aifin siang dan malam.
Ia menjadi sandaran ketika sang yatim merasa
kesepian, menjadi perpanjangan tangan Tuhan bagi anak yang sedang diuji.
Kisah Aifin bukan sekadar tentang penderitaan, melainkan tentang bagaimana kasih sayang mampu menjadi obat yang lebih ampuh dari segalanya.
Aifin mengajarkan kita bahwa di dunia ini, kebaikan tetap hidup melalui tangan-tangan orang baik yang peduli pada mereka yang paling rentan.
Kini, dari SLB PGRI Wonoasih Kota Probolinggo, doa-doa kami terus dipanjatkan. Semoga kesembuhan segera memelukmu, Aifin.
Semoga langkah kakimu kembali kuat, dan tawa yang pernah hilang itu kembali pulang untuk menyapa kami semua. Teruslah berjuang, Nak, karena di sini, engkau tidak pernah sendirian. (*)





Comment