SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerpen
Home » Berita » Supir itu teman ayah

Supir itu teman ayah

Sumber: Ilustrasi AI

oleh: Like Lidyawati

Probolinggo, Globalnext.id – Mentari pagi baru saja menyembul dari balik perbukitan ketika suara klakson angkutan pedesaan terdengar dari kejauhan.

Suara itu sudah sangat akrab di telingaku setiap hari tepat pukul enam lewat sepuluh menit, angkutan berwarna hijau sudah berada di dekat halte desa tempat anak anak menunggu Angkutan Pedesaan (Angdes), untuk membawanya berangkat menuju sekolah yang jauhnya 13 kilo dari desa ,di balik kaca depan tampak senyum hangat seorang pria yang sejak kecil telah menjadi sahabat terbaikku namanya Dian.

Kolaborasi Babinsa Tunjung Bersama BPBD Lumajang, Salurkan Air Bersih di Empat Titik Desa Tunjung Kecamatan Gucialit

“Selamat pagi!” sapanya sambil melambaikan tangan.

Anakku Raka segera berlari keluar dengan tas sekolah di punggung. Ia menyalami Dian sebelum naik ke dalam angkutan yang sudah dipenuhi beberapa siswa dari desa kami.

“Terima kasih, Om Dian,” kata Raka.
“Sama-sama. Belajar yang rajin ya,” jawab Dian sambil tersenyum.

Aku memandang angkutan itu perlahan menjauh meninggalkan jalan desa. Debu tipis berterbangan di jalan desa yang masih berupa batu dan tanah. Setiap kali melihat pemandangan itu, pikiranku selalu kembali pada masa kecil kami.

Aku dan Dian tumbuh bersama di desa yang sederhana. Rumah kami hanya berjarak beberapa puluh meter. Hampir setiap hari kami bermain bersama sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
Sepulang sekolah, kami selalu berlari menuju lapangan kecil di dekat sawah.

Sabet Penghargaan Pemkot Probolinggo pada Harkopnas Ke-79, KPRI Subur Jaya Buktikan Pengelolaan Transparan dan Disiplin

Lapangan itu sebenarnya tidak rata. Banyak batu kecil dan rumput liar tumbuh di sana. Namun bagi kami, tempat itu adalah stadion terbaik dalam duniaku waktu itu.

Kami bermain bola bersama anak-anak kampung hingga matahari tenggelam. Kadang-kadang bola kami masuk ke parit, bahkan ke sawah milik warga. Kami tertawa ketika harus mengambil bola yang penuh lumpur.

Dian selalu menjadi penjaga gawang. Ia memiliki tubuh yang lincah dan berani menjatuhkan diri demi menahan tendangan teman-teman. Meski bajunya kotor, ia tidak pernah mengeluh.

“Yang penting tim kita menang,” katanya sambil tertawa.

Selain bermain bola, kami juga gemar bersepeda. Sepeda kami bukan sepeda baru. Catnya sudah pudar, remnya kadang berbunyi, dan rantainya sering lepas. Namun kami merasa memiliki kendaraan paling hebat.

Gelorakan Semangat Literasi: Gandeng PGRI Bromo Pro Litera Diserbu Pelajar di Stand Festival-EKRAF GOR  A. Yani

Kami mengayuh sepeda menyusuri jalan desa, melewati hamparan sawah yang hijau, kebun tebu, dan sungai kecil yang airnya jernih. Angin sore menerpa wajah kami, membawa aroma tanah basah yang hingga kini masih kuingat.

Saat musim panen tiba, kami sering berhenti untuk membantu petani mengangkut hasil panen. Sebagai imbalannya, kami diberi kelapa muda atau jagung rebus. Rasanya sangat nikmat karena dimakan bersama.

Kesukaan kami yang lain adalah memancing.Setiap hari Minggu pagi, kami membawa bambu yang dijadikan joran sederhana menuju sungai. Umpannya hanya cacing yang kami cari sendiri di kebun belakang rumah.

Kami duduk berjam-jam di tepi sungai tanpa merasa bosan. Kadang kami pulang membawa beberapa ekor ikan kecil. Kadang tidak mendapatkan apa-apa. Anehnya, kami tetap pulang dengan hati yang gembira.

“Yang penting kita sudah menikmati harinya,” kata Dian saat itu.

Kalimat sederhana itu masih kuingat sampai sekarang.

Waktu berjalan begitu cepat kami tumbuh menjadi remaja,setelah lulus sekolah menengah, jalan hidup kami mulai berbeda.Aku melanjutkan pendidikan ke kota karena mendapatkan kesempatan kuliah.

Sementara Dian memilih membantu orang tuanya bekerja demi menghidupi keluarga ,meski jarang bertemu sampai akhirnya sudah sama-sama kami menjadi orang tua.
Aku akhirnya bekerja di kota selama beberapa tahun sebelum memutuskan kembali ke desa. Aku ingin membesarkan keluargaku di tempat yang penuh kenangan.

Ketika kembali, aku mendengar kabar bahwa Dian telah menjadi sopir angkutan pedesaan.

Awalnya aku merasa terkejut,namun ketika bertemu dengannya, wajahnya tetap sama seperti dulu. Senyumnya tidak berubah.

“Aku senang dengan pekerjaan ini,” kata Dian padaku.

“Setiap hari aku bisa membantu banyak orang. Anak-anak sekolah bisa berangkat tepat waktu. Para ibu bisa pergi ke pasar. Orang tua bisa ke puskesmas. Rezekinya memang tidak besar tapi cukup.”

Aku mengangguk sambil tersenyum penuh empati.

Bagiku pekerjaan apa pun akan menjadi mulia jika dilakukan dengan penuh tanggung jawab.

Kini setiap pagi, angkutan Dian menjadi bagian dari kehidupan keluargaku. Anakku tidak pernah khawatir terlambat sekolah karena Dian selalu datang tepat waktu.

Di dalam angkutannya terdapat belasan siswa dari berbagai usia. Ada yang masih SD, SMP, hingga SMA. Mereka saling bercanda sepanjang perjalanan.

Dian mengenal nama setiap anak.Ia tahu siapa yang mudah mabuk perjalanan, siapa yang sering tertinggal bekal, bahkan siapa yang sedang menghadapi ujian.

Jika ada anak yang belum keluar rumah, Dian tidak langsung pergi. Ia akan membunyikan klakson sekali lagi sambil menunggu beberapa menit.

Baginya, mengantar anak-anak sekolah bukan sekadar mencari nafkah.Ia merasa ikut bertanggung jawab atas masa depan mereka.

Suatu pagi hujan turun sangat deras. Jalan desa berubah licin dan berlumpur. Banyak kendaraan memilih berhenti karena takut terjebak.Namun angkutan Dian tetap berjalan perlahan.Sesampainya di sekolah, seluruh siswa turun dengan selamat.

“Terima kasih, Om Dian,” kata mereka hampir bersamaan.

Dian hanya tersenyum sambil mengangguk, melihat kejadian itu membuatku semakin menghargai sahabatku.

Dulu ia menjaga gawang agar tim kami tidak kebobolan, kini ia menjaga keselamatan anak-anak desa agar bisa menuntut ilmu setiap hari,kutitipkan keselamatan anakku,kataku dalam hati kecil sambil melihat Dian dengan rasa haru.

Perannya memang berubah, tetapi semangatnya tetap sama selalu menjaga orang,suatu sore setelah pulang bekerja aku sengaja menunggu angkutan terakhir yang dikemudikan Dian. Hari itu langit mulai berubah jingga sementara anak-anak yang tadi diantarnya telah kembali ke rumah masing-masing.

Ku ajak Dian Ngopi di warung dekat mangkal mobilnya “Sudah lama kita tidak duduk santai seperti ini,” kataku sambil menyerahkan dua gelas kopi hangat.
Dian tersenyum.

“Benar, dulu kita lebih sering duduk di tepi sungai daripada di warung.”
Kami tertawa bersama.

Obrolan kami mengalir begitu saja, seolah waktu tidak pernah memisahkan persahabatan kami. Kami mengenang lapangan kecil tempat bermain bola. Kami masih mengingat pohon besar di pinggir lapangan yang menjadi penanda gawang,kalau bola mengenai batang pohon itu, kami menganggapnya sebagai
gol.

“Masih ingat waktu kamu menendang bola sampai masuk sawah Pak Karto?” tanya Dian sambil tertawa,aku mengangguk sambil ikut tertawa.

“Pak Karto malah menyuruh kita membantu menanam padi sebagai hukuman.”

“Padahal akhirnya kita diberi kelapa muda,” jawabku.

Kenangan demi kenangan muncul seperti film yang diputar kembali.

Kami juga mengenang perjalanan bersepeda mengelilingi desa kadang kami berlomba siapa yang paling cepat sampai ke jembatan bambu teradang pula kami berhenti hanya untuk menikmati matahari terbenam di balik perbukitan.

Yang paling berkesan tentu saja saat memancing bersama.Kami sering berangkat sejak subuh membawa bekal nasi bungkus buatan ibu hasil pancingan tidak selalu banyak tetapi kebersamaan itulah yang membuat setiap hari terasa istimewa.

Dian menatap ke arah sungai yang terlihat dari kejauhan.

“Waktu kecil, kita tidak pernah membayangkan akan menjalani hidup seperti sekarang.”

Aku mengangguk pelan.

“Hidup memang membawa kita ke jalan yang berbeda. Tapi aku bersyukur kita masih dipertemukan.”

Dian hanya tersenyum beberapa hari kemudian sekolah Raka mengadakan peringatan Hari Pendidikan.

Para orang tua diundang untuk menghadiri acara sederhana di halaman sekolah.Aku datang bersama istriku. Di halaman sekolah tampak puluhan siswa mengenakan seragam rapi. Guru-guru sibuk mempersiapkan acara.

Di sudut halaman, kulihat angkutan Dian terparkir dengan bersih. Anak-anak yang diantarnya turun satu per satu sambil mengucapkan terima kasih , salah seorang guru menghampiri Dian.

“Terima kasih, Pak Dian. Berkat Bapak, anak-anak dari desa bagian atas hampir tidak pernah terlambat.”

Dian hanya menjawab singkat.
“Ini sudah menjadi tanggung jawab saya, Bu.”

Aku mendengar percakapan itu dari kejauhan. Hatiku terasa hangat, sahabatku memang bukan seorang pejabat, bukan pula orang yang terkenal namun melalui pekerjaannya ia telah membantu banyak anak meraih pendidikan.

Di sampingku, Raka berbisik pelan.

“Ayah, Om Dian sangat tlaten dan sabar meski kadang temanku nakal membuang sampah makanan di dalam mobilnya,” kata anakku.”

Aku mengusap kepala Raka.
“Iya karena om Dian menganggap kalian seperti anaknya sendiri. Pekerjaan apa pun akan menjadi mulia kalau dilakukan dengan sabar dan penuh tanggung jawab.”

Sejak hari itu, Raka semakin menghormati Dian. Setiap pagi ia selalu menyapa dengan ramah dan membantu adik-adik kelas menaiki angkutan. Kebiasaan baik itu ternyata menular kepada anak-anak yang lain.

Suasana di dalam angkutan pun selalu penuh keceriaan. Dian sering mengingatkan mereka untuk saling menghormati, menjaga kebersihan dan rajin belajar.

“Biar nanti kalian bisa menggapai cita-cita yang tinggi,” katanya hampir setiap hari.

Suatu pagi saat perjalanan menuju sekolah, angkutan berhenti mendadak karena ada pohon tumbang akibat hujan semalam,tanpa ragu Dian bersama beberapa warga memindahkan ranting-ranting yang menghalangi jalan.

Anak-anak ikut membantu mengumpulkan dahan kecil agar jalan kembali bisa dilewati. Meski sedikit terlambat, semua siswa akhirnya tiba di sekolah dengan selamat.

Ketika sore harinya Raka pulang, ia berkata dengan bangga,

“Ayah, Om Dian bilang kalau saling membantu itu lebih penting daripada saling menyalahkan.”

Aku tersenyum mendengar cerita itu.
Aku sadar bahwa Dian bukan hanya mengantar anak-anak menuju sekolah. Ia juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan melalui teladan yang ia tunjukkan setiap hari.

Malam itu sambil duduk di teras rumah, aku memandang jalan desa yang mulai sepi. Dalam hati aku bersyukur masih memiliki sahabat seperti Dian.

Persahabatan kami telah melewati masa kecil yang penuh permainan, masa remaja yang penuh perjuangan, hingga masa dewasa yang dipenuhi tanggung jawab. Kini, melalui angkutan pedesaan yang sederhana, persahabatan itu terus hidup.

Setiap kali melihat anakku berangkat sekolah bersama Dian, aku selalu teringat akan masa lalu. Dari lapangan bola jalan setapak tempat kami bersepeda hingga sungai tempat kami memancing, semua kenangan itu menjadi pengingat bahwa persahabatan sejati tidak pernah hilang oleh waktu.

Mungkin jalan hidup kami berbeda, tetapi tujuan kami tetap sama, yaitu menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Dan bagiku, Dian telah membuktikan bahwa jasa sekecil apa pun akan selalu memiliki arti yang besar apabila dilakukan dengan hati yang tulus.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jasa Pembuatan Legalitas Badan Usaha & Sertifikasi Profesi

Mobile / Web / Desktop Development & IoT Devices Deployment

Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H 2026

Berita Populer

01

MI Muhammdiyah 1 Kota Probolinggo: Semangat Kebersamaan Warnai Penutupan FORTASI di Yon Zipur 10 Kota Probolinggol

02

FORTASI 2026 Day 2 MI Muhammadiyah Kota Probolinggo: Menumbuhkan Semangat Belajar dan Karakter Islami

03

Diduga Surat Relaas Panggilan dari PA Kota Probolinggo Disabotase, Termohon Klarifikasi Melalui Surat ke Pengadilan Agama

04

FORTASI 2026 MIMsapro Resmi Dibuka: Awali Langkah Peserta Didik Gembira Berkarya.

05

MPLS SDN Jati I Seru: Hadirkan Badut, Jaran Bodag, Lepas Balon dan Burung Merpati

Berita Terbaru






× Advertisement
× Advertisement