Probolinggo , Globalnext.id – Dinas Pertanian (Diperta) Kabupaten Probolinggo bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Jawa Timur II menggelar pelatihan teknis bagi juru sembelih dan panitia kurban. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Tengger Kantor Bupati Probolinggo pada Jumat (22/5/2026) ini berfokus pada penanganan daging dan jeroan, serta pengenalan kelainan organ pada hewan kurban.
Pelatihan ini dihadiri oleh para anggota takmir masjid dan panitia kurban dari berbagai wilayah di Kabupaten Probolinggo, pihak yang setiap tahun terlibat langsung dalam proses penyembelihan hingga pendistribusian daging saat perayaan Idul Adha.
Sejumlah narasumber berkompeten hadir untuk berbagi wawasan, antara lain drh. M. Aris Wahyudi (PDHI Cabang Jatim II), Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan dan Kesmavet) Diperta Kabupaten Probolinggo drh. Nikolas Nuryulianto, anggota Komisi Fatwa MUI Kabupaten Probolinggo Imam Syafi’i, serta Koordinator Wilayah Probolinggo PDHI Cabang Jatim II drh. Ar-Rafi.
Kepala Diperta Kabupaten Probolinggo, Arif Kurniadi, melalui Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet, drh. Nikolas Nuryulianto, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam menangani hewan kurban. Tujuannya agar seluruh proses memenuhi standar kesehatan, kebersihan, serta ketentuan syariat Islam.
“Peserta yang kami undang adalah mereka yang bersinggungan langsung dengan penanganan ternak kurban. Harapannya, mereka paham tata cara penyembelihan dan penanganan daging yang mengacu prinsip aman, sehat, utuh, dan halal,” ujar Nikolas.

Foto: Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet Diperta Kabupaten Probolinggo drh. Nikolas Nuryulianto dalam pelatihan juru sembelih hewan kurban.
Ia menambahkan, pemahaman mendalam mengenai kesehatan hewan dan keamanan pangan sangat krusial. Hal ini untuk menjamin kualitas daging yang nantinya dibagikan ke masyarakat luas benar-benar layak konsumsi. “Kami ingin memastikan daging kurban yang diterima warga terjamin keamanannya serta memenuhi aspek kesehatan dan kehalalan,” tegasnya.
Dalam materi pelatihan, peserta dibekali pengetahuan untuk mengenali kelainan pada organ hewan. Kemampuan ini diharapkan memungkinkan panitia mendeteksi dan memisahkan hewan atau bagian tubuh yang tidak layak dikonsumsi sejak awal proses penyembelihan.
Sebagai tindak lanjut, Diperta Kabupaten Probolinggo berencana membentuk grup komunikasi khusus yang beranggotakan para peserta pelatihan. Wadah ini akan menjadi sarana konsultasi terkait permasalahan kurban, pendataan hewan, hingga penanganan kelainan pada daging dan organ.
“Kami berharap kegiatan serupa dapat berjalan rutin setiap tahun. Melalui grup komunikasi ini, peserta akan lebih mudah berkonsultasi jika menemui kendala atau masalah saat pelaksanaan kurban nanti,” tambahnya.
Dalam sesi diskusi, sejumlah perwakilan takmir masjid menyampaikan harapan agar pemerintah daerah dapat membantu penyediaan sarana penunjang, seperti alat penyembelihan yang layak, talenan, serta peralatan sanitasi guna menjaga kebersihan.
Sementara itu, narasumber dari PDHI Cabang Jatim II, drh. M. Aris Wahyudi, menekankan penerapan prinsip higiene dan sanitasi di seluruh tahapan kerja. Ia mengingatkan agar tidak menggunakan sandal atau merokok di area pengolahan daging, serta mewajibkan pemisahan antara daging dan jeroan agar kebersihan tetap terjaga.
“Penanganan daging harus higienis. Daging dan jeroan wajib dipisah, dan lingkungan kerja harus bersih agar kualitasnya tidak menurun,” jelas Aris.
Sesi tanya jawab juga membahas persoalan praktis, salah satunya mengenai hukum memasak seluruh daging kurban sebelum dibagikan. Hal ini disampaikan oleh seorang ustaz dari Kecamatan Banyuanyar yang mengaku kesulitan membagikan daging mentah akibat jumlah hewan kurban yang sangat banyak.
Merespons hal tersebut, anggota Komisi Fatwa MUI Kabupaten Probolinggo, Imam Syafi’i, menjelaskan perbedaan ketentuan antara kurban dan aqiqah. Menurutnya, daging kurban pada dasarnya dianjurkan dibagikan dalam bentuk mentah.
“Jika seluruhnya dimasak, itu lebih mendekati ketentuan aqiqah. Dalam pelaksanaan kurban, sebagian boleh disajikan matang, namun sebagian besar tetap harus dibagikan mentah. Agar lebih sesuai syariat dan mudah dalam pembagian, sebaiknya daging tetap disalurkan dalam kondisi mentah,” papar Imam Syafi’i.
Melalui pelatihan ini, Diperta Kabupaten Probolinggo berharap standar pelaksanaan kurban di masyarakat semakin meningkat, lebih higienis, dan sepenuhnya sesuai syariat. Hal ini demi memberikan rasa aman dan kepuasan bagi seluruh masyarakat yang menerima pembagian daging kurban.




Comment