
Ketua JAKPRO saat silaturahmi ke Ka Cabang Dinas Pendidikan wil. Kab/Kota Probolinggo (5/3/2026).
Probolinggo, globalnext.id – Di jam-jam sekolah, jalanan seharusnya lebih lengang dari lalu-lalang pelajar berseragam. Tapi kadang realitas tak selalu seideal jadwal di papan kelas. Masih ada saja siswa yang terlihat nongkrong di warung kopi, duduk santai di taman kota, atau sekadar keluyuran tanpa arah padahal bel pelajaran sudah lama berbunyi.
Situasi seperti itulah yang akan mulai ditertibkan. Langkah yang akan diambil Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur wilayah Kabupaten/Kota Probolinggo untuk menertibkan siswa yang berada di luar sekolah saat jam belajar mendapat dukungan dari Ketua LSM JAKPRO
Ia menilai, upaya ini bukan sekadar razia biasa, melainkan bagian dari usaha bersama menanamkan disiplin pada generasi muda.
Ketua LSM JAKPRO Badrus Seman.
menilai, dunia pendidikan tak bisa berdiri sendiri. Ia butuh jembatan kerja sama dengan berbagai pihak. Dalam hal ini, rencana kolaborasi dengan Satpol PP menjadi langkah strategis. Kehadiran aparat penegak perda itu diharapkan mampu membantu menertibkan siswa yang kedapatan berada di luar sekolah tanpa alasan jelas saat jam pelajaran berlangsung.
“Ini bukan soal menghukum anak-anak, tapi soal mengingatkan mereka bahwa ada tanggung jawab yang sedang menunggu di ruang kelas,” ujar Ketua JAKPRO Bradus Seman.
Menurutnya, disiplin adalah pondasi yang sering kali terlihat sederhana, tapi dampaknya panjang. Jika sejak sekolah siswa sudah terbiasa mematuhi aturan waktu dan kewajiban belajar, maka di masa depan mereka akan lebih siap menghadapi dunia yang jauh lebih kompleks.
Rencana penertiban ini juga dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap masa depan pelajar. Sebab, ketika siswa dibiarkan bebas berkeliaran di luar sekolah tanpa pengawasan, risiko munculnya perilaku negatif bisa saja ikut terbuka. Dari sekadar bolos hingga potensi terjerumus pada pergaulan yang tidak sehat.
Karena itu, JAKPRO berharap upaya yang akan dilakukan Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur wilayah Probolinggo ini tidak hanya berhenti pada operasi penertiban sesaat. Lebih dari itu, perlu ada kesinambungan program pembinaan, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat.
Di sisi lain, Badrus juga mengajak para orang tua untuk ikut mengambil peran. Pendidikan sejatinya tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga di rumah, di jalan, bahkan di meja makan keluarga. Ketika sekolah, pemerintah, dan keluarga berjalan seirama, barulah disiplin benar-benar tumbuh seperti pohon yang akarnya menancap kuat.
Bagi JAKPRO, langkah ini adalah sinyal bahwa pendidikan anak itu tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri. Ia perlu dijaga, diawasi dan didampingi bahkan sesekali ditegur ketika mulai keluar jalur.
Sebab di balik seragam putih abu-abu itu, ada masa depan yang sedang dipahat perlahan, hari demi hari, dan kadang, sedikit penertiban justru menjadi cara agar arah perjalanan siswa tetap lurus menuju tujuan.(*)
Pewarta : Joko




Comment