sumber: ilustrasi AI
Oleh: Mery Dian Nathalia
Proboliggo Kota, Globalnext.id – Dinding rumah tiba-tiba terasa jauh lebih luas dari biasanya, dan langkah kaki yang dahulu meramaikan ruang tamu kini telah berganti sepi yang menjalar.
Di sudut meja makan, hanya ada satu cangkir teh yang mengepulkan asap tipis, menemani guratan sepi yang kian akrab.
Bagi seorang ibu yang anaknya sedang merantau entah untuk menuntut ilmu atau menjemput rezeki keheningan bukanlah sekadar sunyi, melainkan ujian terberat yang harus dipeluknya setiap hari.
Rindu seorang ibu bukanlah rindu yang bising. Ia tidak selalu menjelma tangisan yang meledak-ledak, tidak pula berupa rentetan pesan singkat yang bertubi-tubi meneror ponselmu.
Seringkali, rindu itu menyamar dalam diam yang sangat khusyuk, bersembunyi di balik senyum yang dipaksakan agar engkau di sana tak perlu merasa cemas.
Suara-Suara yang Kini Menjadi Asing
Bagi seorang ibu di kampung halaman, ingatan tentangmu adalah rekaman memori yang diputar berulang-ulang tanpa pernah membuatnya bosan.
Di ruang tengah yang kini lengang, ia seringkali tertegun, seolah masih mendengar suara tawa renyahmu yang dulu menghidupkan seluruh sudut rumah.
Deru halus suara motormu di halaman, sebuah tanda paling menenangkan bahwa anaknya telah pulang dengan selamat.
Keluhan-keluhan kecilmu tentang rasa masakan rumah, yang dulu terdengar biasa, namun kini menjelma menjadi melodi paling dirindukan yang ingin ia dengar sekali lagi.
Ketika jarak membentang ratusan hingga ribuan kilometer, kehangatan itu terpaksa beralih pada selembar layar kaca yang dingin.
Namun, tahukah kamu? Sebuah panggilan video singkat meski hanya berdurasi lima menit sudah lebih dari cukup untuk mengukir senyum di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis penuaan.
Walau perihnya, setelah tombol tutup ditekan, sepi justru kembali menyergap dengan jauh lebih pekat.
Sajadah dan Do’a: Tempat Terbaik untuk Menitipkanmu
Namun, ada satu tempat sakral di mana jarak tidak lagi memiliki kuasa untuk memisahkan. Sebuah tempat di mana ruang dan waktu melebur menjadi satu: di atas hamparan sajadah, tepat di ujung do’a-do’anya.
Ketika malam kian larut dan rasa khawatir mulai menjalar memikirkan apakah anak halusnya sudah makan dengan baik, apakah lingkungannya aman, atau apakah pundak kecilmu sedang didera kelelahan hebat ibu sadar ia tak punya sayap untuk terbang menyisir jarak dan memelukmu.
Maka, dengan tangan yang bergetar menahan rindu, ia bersujud, menundukkan kepala sedalam-dalamnya, dan menyerahkan belahan jiwanya kepada Sang Pemilik Kehidupan.
”Ya Allah, jaga anakku di sana… , mudahkan langkah kakinya, lembutkan hatinya, dan lapangkan jalan rezekinya. Jika ia teramat lelah, jadikan tidurnya malam ini sebagai penawar karibmu. Dan jika waktunya tiba nanti, bawalah ia pulang ke pelukanku dalam keadaan selamat tanpa kurang suatu apa pun.”
Do’a ibu adalah wujud pelukan hangat jarak jauh yang paling nyata. Ia memang tidak memiliki wujud yang bisa kau lihat, namun getaran tulusnya mampu menembus langit tertinggi, menjelma menjadi perisai tak terlihat yang menjaga setiap langkah kakimu di tanah rantau bahkan tanpa pernah kamu sadari.
Bisikan Lembut untukmu di Ujung Sana
Anakku, jika hari ini langkah kakimu terasa begitu ringan, jika beban beratmu tiba-tiba terasa mudah, atau ada keberuntungan yang tiba-tiba datang menyapamu tanpa alasan, merenunglah sejenak.
Ketahuilah bahwa itu bisa jadi adalah ketukan dari untaian do’a ibumu yang baru saja dikabulkan di langit.
Ibumu tidak pernah meminta banyak, nak. Ia sangat paham bahwa kamu memiliki dunia luas yang harus ditaklukkan dan masa depan megah yang harus dibangun.
Ia ikhlas melepasmu, membiarkan sarangnya kosong demi melihatmu terbang tinggi menembus awan.
Namun, di sela-sela waktu sibukmu mengejar mimpi yang melelahkan itu, luangkanlah barang beberapa menit. Kirimkanlah kabar, tanyakan bagaimana harinya, atau sekadar ucapkan kata sederhana:
“Ibu, aku rindu.”
Sebab bagi seorang ibu, penantian panjang di ujung do’a itu selalu menyuarakan harapan yang sama, menunggumu melangkah pulang kembali ke rumah, membawa dirimu yang sehat, dengan binar mata dan senyuman tulus yang masih sama seperti dulu.(*)






Comment