Foto: Cerita Sumber Mata Air Sentong. Sumber Ilustrasi AI
Oleh: Rudy Hartono
(Komen Bromo Pro Litera)
Probolinggo, Globalnext.id – Di tengah pesatnya perkembangan Kota Probolinggo, masih tersimpan berbagai cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah legenda sebuah mata air Sentong yang terletak di Jalan Sunan Bonang, RT 03/RW 02, Kelurahan Jrebeng Wetan, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo dengan luas area sekitar 3.000 meter persegi dan telah ditetapkan serta dikembangkan oleh Pemerintah Kota Probolinggo sebagai destinasi wisata air dan kawasan konservasi.
Sumber mata air Sentong diyakini masyarakat sebagai sumber kehidupan sekaligus bagian penting dari sejarah lokal yang sarat makna.
Menurut penuturan para sesepuh, kawasan Sentong telah dikenal sejak masa ketika wilayah Probolinggo masih didominasi hutan dan lahan pertanian. Dalam tradisi lisan masyarakat, keberadaan sumber mata air tersebut kerap dikaitkan dengan perjalanan Raden Djojolelono (Joko Lelono), tokoh yang dipercaya berperan dalam membuka kawasan permukiman di wilayah Probolinggo.
Dikisahkan, pada saat masyarakat mengalami musim kemarau panjang, sumur-sumur mengering dan hasil pertanian menurun drastis. Melihat kondisi tersebut, Raden Djojolelono bersama para pengikutnya memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa. Setelah beberapa hari bertapa di sebuah tempat yang dikenal sebagai sentong atau ruang khusus untuk berdoa, beliau kemudian menancapkan tongkatnya ke tanah.
Atas izin Tuhan, dari bekas tancapan tongkat tersebut memancar air jernih yang tidak pernah berhenti mengalir. Air itu kemudian dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta mengairi lahan pertanian. Sejak saat itu, lokasi tersebut dikenal sebagai Sumber Mata Air Sentong.
Sebagian masyarakat juga mengaitkan kisah ini dengan masa pemerintahan Raden Tumenggung Djojonegoro, Bupati Probolinggo pada masa awal pemerintahan kolonial. Menurut cerita yang berkembang, sumber-sumber air di wilayah Probolinggo, termasuk Sentong, mendapat perhatian khusus karena menjadi penopang utama kehidupan masyarakat dan sektor pertanian. Namun demikian, keterkaitan langsung antara Djojonegoro dan asal-usul Sumber Sentong belum didukung oleh bukti sejarah tertulis, sehingga tetap dipandang sebagai bagian dari legenda rakyat.
Legenda Sumber Mata Air Sentong juga tidak dapat dipisahkan dari sosok Kiai Hasan Genggong, ulama kharismatik Probolinggo yang dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya menjaga alam sebagai amanah Tuhan. Meskipun tidak berkaitan langsung dengan asal-usul mata air tersebut, nilai-nilai yang beliau ajarkan sejalan dengan semangat masyarakat dalam merawat sumber air sebagai anugerah yang harus dilestarikan.
Hingga kini, Sumber Mata Air Sentong masih dikenang sebagai simbol kehidupan, kebersamaan, dan rasa syukur. Pada masa lalu, warga kerap berkumpul di sekitar mata air untuk mengambil air, mencuci, sekaligus bersilaturahmi. Tradisi tersebut mencerminkan eratnya hubungan sosial masyarakat yang tumbuh di sekitar sumber kehidupan ini.
Para budayawan menilai bahwa legenda Sumber Mata Air Sentong merupakan bagian dari kekayaan tradisi lisan Kota Probolinggo yang perlu dijaga dan dilestarikan. Meskipun unsur ceritanya memadukan sejarah dan mitos, pesan moral yang terkandung di dalamnya tetap relevan, yakni pentingnya kerja keras, doa, gotong royong, serta kepedulian terhadap kelestarian alam.
Upaya melestarikan Sumber Mata Air Sentong tidak hanya berarti menjaga keberadaan fisiknya, tetapi juga merawat ingatan kolektif masyarakat terhadap warisan budaya lokal. Dengan mengenalkan legenda ini kepada generasi muda, diharapkan nilai-nilai luhur para leluhur tetap hidup dan menjadi inspirasi dalam menjaga lingkungan serta memperkuat identitas Kota Probolinggo sebagai daerah yang kaya akan sejarah, budaya, dan tradisi.(*)
Pewarta: Joko
Sumber : Cerita Rakyat






Comment