Foto: Para pemenang PAPTI Award 2026 yang digelar di PO Hotel Semarang (14-16/7/2026).
Semarang, Globalnext.id– Di tengah dinamika politik tanah air yang gemar gonta-ganti aturan, ada satu hal yang tampaknya sangat konsisten yakni kepercayaan kepada Ir. Ar. Gatut Prasetiyo.
Melalui jalur “tol” musyawarah mufakat alias aklamasi, Munas II PAPTI (Perkumpulan Ahli Pengkaji Teknis Indonesia) yang digelar di PO Hotel Semarang (14-16 Juli 2026) secara
bulat memutuskan untuk tidak membiarkan Gatut beristirahat dari kursi panas Ketua Umum Nasional masa bakti 2026-2029.
Mengapa harus repot-repot voting jika kinerja sudah bicara? Begitulah kira-kira gumaman para delegasi daerah dari seluruh penjuru Nusantara.
Dikutip dari JNN. “PAPTI, sebagai organisasi profesi di bidang pengkajian teknis bangunan itu, memang masih mempertahankan Ir.Ar, Gatut Prasetiyo, sebagai Ketum hasil Munas ini,” ujar delegasi dari Sumatera yang tampak lega, karena proses pemilihan berjalan sangat efisien, bebas dari drama debat kusir yang melelahkan.
“Kepemimpinannya, sudah terbukti, dengan terbentuknya PAPTI di 30 provinsi di Indonesia, dalam waktu tiga tahun pada masabakti 2023-2026,” terangnya lebih lanjut.
SLF: Antara sertifikat, hukum, dan “Masa depan cerah” Pengkaji Teknis.
Selain agenda utama memilih nakhoda baru, Munas II ini juga dihiasi dengan pameran dan Talk Show bertajuk panas namun realistis:
“SLF dalam perspektif hukum, dan peluang profesi Pengkaji Teknis ke depan”.
Diskusi ini seolah menegaskan bahwa di balik megahnya gedung-gedung bertingkat di Indonesia, ada tanggung jawab hukum yang berat, serta tentu saja, peluang cuan profesi yang sangat menjanjikan bagi para pengkaji teknis.
Mengkaji kelaikan fungsi bangunan kini bukan lagi sekadar urusan formalitas kertas di atas meja, melainkan benteng pertahanan terakhir agar gedung tidak “bertingkah” di kemudian hari.
Hujan penghargaan PAPTI Award 2026: Sindiran halus untuk daerah yang belum bergerak.
Puncak dari rangkaian acara ini adalah penyerahan PAPTI Award 2026. Sebuah langkah strategis dari organisasi nirlaba ini untuk memberikan “cubitan sayang” sekaligus apresiasi kepada pemerintah kota dan kabupaten.
Logikanya sederhana: daerah yang rajin mengurus “Sertifikat Laik Fungsi” (SLF) layak dipuji, sementara yang masih lambat, ya, silakan melihat panggung dengan gigit jari.
Berikut adalah para jawara yang sukses membawa pulang piala PAPTI Award 2026 perdana ini:
Kota Semarang.
Meraih award katagori: Penerbit SLF Terhandal .
Sebagai tuan rumah, Semarang membuktikan bahwa mereka tidak hanya jago menyajikan lumpia, tapi juga jago dan kokoh dalam urusan administrasi keandalan bangunan.
Kota Singkawang.
Meraih award katagori: Penerbit SLF Terbanyak
Memborong kuantitas. Singkawang tampaknya sedang dalam misi membuat seluruh bangunan di wilayahnya memiliki “paspor” kelaikan tanpa terkecuali.
Kabupaten Jember.
Meraih award katagori: Penerbit SLF Tercepat.
Seakan melawan mitos birokrasi yang lambat dan berbelit-belit. Di Jember, urusan SLF rupanya melaju secepat kereta cepat.
Kota Tangerang.
Meraih award katagori: Penerbit SLF Terbaik.
Tidak hanya cepat dan banyak, Tangerang memilih jalur paripurna dengan mengutamakan kualitas proses penerbitan yang presisi.
Apresiasi pertama dari sektor nirlaba
Ketua Umum terpilih, Gatut Prasetiyo, dengan senyum khasnya mengakui bahwa inisiatif pemberian penghargaan ini merupakan terobosan baru.
Diakui oleh Prasetiyo, Ini adalah pertama kalinya sebuah organisasi nirlaba berinisiatif menilai dan mengapresiasi kinerja pemerintah daerah dalam hal keselamatan bangunan melalui SLF.
Dengan berakhirnya Munas II ini, tantangan PAPTI ke depan jelas tidak mudah. Di bawah kepemimpinan Gatut Prasetiyo periode ini, publik tentu menunggu apakah 30 kepengurusan provinsi yang sudah terbentuk mampu benar-benar membumikan SLF, ataukah penghargaan-penghargaan ini hanya akan menjadi pajangan indah di lemari kantor dinas tanpa dampak nyata di lapangan.(Tim/Red).






Comment