Foto: Kepala DLH Kabupaten Probolinggo Roby Siswanto (Tengah) bersama narasumber dan perwakilan tokoh adat usai membuka kegiatan pembinaan penguatan kelembagaan adat Suku Tengger di Sukapura, Kamis (2/7/2026).
Probolinggo, Globalnext.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo berkolaborasi dengan program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) PT POMI-Paiton Energy menggelar pembinaan penguatan kelembagaan Masyarakat Hukum Adat Suku Tengger. Kegiatan berlangsung di Pendopo Kecamatan Sukapura, Kamis (2/7/2026).
Pembinaan ini merupakan langkah strategis untuk memperkokoh peran masyarakat adat sebagai penjaga utama kelestarian lingkungan, sekaligus meningkatkan kualitas tata kelola sampah yang berkelanjutan di kawasan tersebut.
Kegiatan dibuka langsung oleh Kepala DLH Kabupaten Probolinggo Roby Siswanto, dan diikuti oleh 60 peserta yang meliputi kepala desa se-Kecamatan Sukapura, tokoh masyarakat, pegiat lingkungan, serta perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Probolinggo.
Hadir sebagai narasumber Iskandar Zulkarnaen dari SMIAS dan M. Anshori dari Forum Sahabat Gunung. Keduanya memaparkan materi seputar penguatan kelembagaan masyarakat adat, pelestarian ekosistem, hingga konservasi sumber daya air sebagai fondasi penting keberlangsungan hidup kawasan Tengger.
Dalam sambutannya, Roby Siswanto menegaskan bahwa masyarakat adat memiliki peran tak tergantikan dalam menjaga keseimbangan alam. Oleh sebab itu, penguatan kelembagaan menjadi kunci agar upaya pelestarian dapat berjalan terstruktur, menyeluruh, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.

“Kearifan lokal yang dimiliki Suku Tengger adalah kekuatan utama kita menjaga kawasan ini. Kami ingin kelembagaan adat semakin kuat, sehingga mampu berperan aktif melindungi sumber daya alam, termasuk dalam pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Salah satu fokus utama yang disorot dalam kegiatan ini adalah pelestarian vegetasi asli kawasan Tengger yang kini terancam keberadaannya akibat masuknya tanaman invasif asing. Menurut Roby, jenis tanaman asli bukan hanya memiliki nilai ekologis tinggi, melainkan juga bagian dari identitas budaya yang harus dipertahankan.
“Kami akan berupaya keras memulihkan populasi vegetasi asli yang mulai langka. Tanaman ini adalah kekayaan alam sekaligus daya tarik yang dapat mendukung pengembangan potensi kawasan ke depannya,” jelasnya.
Upaya pelestarian ini diharapkan tidak hanya menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga mendongkrak kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan wisata berbasis konservasi alam dan budaya. “Jika alam terjaga, manfaatnya akan dirasakan dalam jangka panjang—baik dari sisi lingkungan, sosial, maupun ekonomi bagi warga Tengger,” tambahnya.
Selain konservasi hayati, DLH juga memperkenalkan inovasi pengelolaan sampah berbasis rumah tangga di Sukapura. Nantinya akan diterapkan sistem registrasi pelayanan sampah untuk memetakan setiap rumah tangga, sehingga pengangkutan dapat dilakukan lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan.
“Dengan data yang tercatat jelas, pelayanan sampah akan lebih optimal. Ini langkah nyata menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bagi seluruh warga,” terangnya.
Di akhir kegiatan, Roby berharap sinergi antara pemerintah daerah, dunia usaha, pemerintah desa, tokoh adat, dan masyarakat dapat terus terjalin erat. “Pelestarian Tengger tidak bisa dilakukan sendirian. Kita butuh gotong royong agar alam tetap lestari, budaya tetap terjaga, dan kesejahteraan masyarakat terus meningkat,” pungkasnya. (*)
Pewarta: Joko






Comment