SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendidikan
Home » Berita » Pengalaman Mengajar di Sekolah Luar Biasa: Belajar tentang Kesabaran dan Ketulusan

Pengalaman Mengajar di Sekolah Luar Biasa: Belajar tentang Kesabaran dan Ketulusan

Foto: Dokumentasi Kegiatan Pembelajaran Bersama Murid di Kelas

Oleh: Mery Dian Nathalia S.Pd.
(Guru SLB PGRI Wonoasih Kota Probolinggo)

Probolinggo Kota, Globalnext.id – Mengajar merupakan sebuah profesi yang tidak hanya menuntut kemampuan mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebuah panggilan jiwa yang membutuhkan kelapangan dada, empati mendalam, dan ketulusan yang tak bertepi.

Perjalanan kami sebagai seorang pendidik di
Sekolah Luar Biasa (SLB) PGRI Wonoasih telah menjelma menjadi salah satu fragmen kehidupan yang paling berkesan, sekaligus sebuah madrasah kehidupan yang menganugerahkan begitu banyak pelajaran berharga.

Kilas balik pada awal penugasan kami di tahun 2021, di situlah seluruh kisah perjuangan ini bermula. Sebagai seorang guru baru yang merasa minim pengalaman, melangkah pertama kali ke dalam lingkungan SLB PGRI Wonoasih menghadirkan pergulatan batin tersendiri.

Kolaborasi Babinsa Tunjung Bersama BPBD Lumajang, Salurkan Air Bersih di Empat Titik Desa Tunjung Kecamatan Gucialit

Ada riak antusiasme yang besar serta tantangan dalam mendidik, namun berkelindan erat dengan rasa gugup dan kebingungan yang membuncah. Kami sempat tertegun, mempertanyakan dari mana harus memulai langkah awal.

Di hadapan kami, berdiri anak-anak istimewa dengan spektrum kebutuhan yang sangat
beragam mulai dari hambatan pendengaran (tunarungu), hambatan intelektual (tunagrahita), hingga hambatan perkembangan lainnya.

Kecemasan sempat menggelayut di benak kami, mampukah kami membangun jembatan komunikasi dan menyampaikan materi pembelajaran dengan baik kepada mereka?

Seiring berjalannya waktu, realitas dilapangan memaksa kami untuk meruntuhkan teori – teori pedagogi umum. Kami menyadari sepenuhnya bahwa metode instruksional konvensional yang kerap diterapkan di sekolah reguler tidak serta-merta dapat diimplementasikan di sini.

Berpijak dari tantangan tersebut, kita dituntut untuk mendobrak batas kreativitas diri. Demi
memastikan setiap materi dapat diserap dengan mudah dan menyenangkan, kami mulai merancang media pembelajaran yang lebih visual dan interaktif.

Sabet Penghargaan Pemkot Probolinggo pada Harkopnas Ke-79, KPRI Subur Jaya Buktikan Pengelolaan Transparan dan Disiplin

Melalui Kartu kata, gambar bergradasi warna, permainan edukatif, hingga aktivitas praktik langsung menjadi instrumen harian di kelas.

Di samping itu, mengulang satu penjelasan hingga berkali-kali bukan lagi sebuah beban, melainkan sebuah ritme pengajaran yang harus dinikmati agar kenyamanan belajar murid tetap terjaga.

Kendati dilingkupi keterbatasan fisik maupun kognitif, anak-anak ini justru memancarkan
pendar semangat yang luar biasa. Antusiasme mereka dalam mengikuti setiap jengkal kegiatan kelas seolah mereduksi rasa lelah yang kita rasakan. Senyum polos dan tawa renyah yang membahana di ruang kelas senantiasa menjadi asupan motivasi terbaik bagi kita untuk terus mengajar dengan penuh semangat.

Jembatan Sunyi : Menembus Batas Komunikasi.

Salah satu pengalaman yang paling menggetarkan hati dan mengetuk kesadaran kami untuk terus belajar, terjadi ketika kita dihadapkan pada momen komunikasi dengan seorang murid tunarungu.

Gelorakan Semangat Literasi: Gandeng PGRI Bromo Pro Litera Diserbu Pelajar di Stand Festival-EKRAF GOR  A. Yani

Kala itu, sang murid berusaha menanyakan sesuatu dengan binar mata penuh harap. Malangnya, kita  belum memiliki kecakapan untuk membalas tutur katanya dalam bahasa isyarat mereka. Keheningan itu seketika terasa menyiksa. Kami disergap rasa bersalah dan kesedihan yang mendalam.

Pertanyaan reflektif terus terngiang di dalam diri: “Kenapa kita  tidak bisa menjawab pertanyaan mereka sesuai dengan apa yang ingin mereka ceritakan dan harapkan dari kita?”

Peristiwa itu menjadi pemantik komitmen kami untuk belajar lebih keras. Kami  berjanji pada
diri sendiri untuk bisa mengimbangi bahasa mereka, agar kelak tak ada lagi jarak sunyi di antara kami.

Selama tiga bulan berturut-turut, kami  mencurahkan waktu untuk mengamati secara saksama bagaimana mereka berinteraksi satu sama lain saat asyik mengobrol bersama
teman-teman nya.

Kami membuka kamus bahasa isyarat, berselancar di YouTube, dan mempelajari “bahasa ibu” yang mereka gunakan sehari-hari. Alhamdulillah, Allah SWT mengabulkan doa dan ikhtiar kami. Dinding pembatas itu akhirnya runtuh.

Kini, kami dapat berkomunikasi dengan lancar bersama murid-murid tunarungu, dan percakapan kami setiap harinya terjalin dengan sangat baik dan hangat.

Menjadi Multiperan di Kelas Tunagrahita

Namun, cerita pengabdian ini belum usai di sana. Memasuki tahun ketiga mengajar di SLB PGRI Wonoasih, dinamika perjuangan Kami memasuki babak baru ketika saya dialihkan tugas menjadi wali kelas tunagrahita.

Di ruang kelas yang baru ini, tantangan yang kami hadapi jauh lebih besar dan kompleks. Kami membersamai anak-anak dengan karakteristik yang sangat heterogen dan beragam karakter. Ada yang hiperaktif dan tak bisa diam, ada anak tunadaksa, anak dengan spektrum autisme, hingga Down syndrome.

Di sinilah tingkat profesionalisme dan emosional kita benar-benar diuji. Menghadapi keterbatasan mereka, seorang guru kelas tunagrahita harus siap mentransformasikan dirinya menjadi multiperan setiap saat.

Kita  tidak hanya bertindak sebagai guru yang mentransfer ilmu, tetapi juga harus memosisikan diri sebagai dokter yang mengobservasi kesehatan mereka, terapis yang melatih motorik dan perilaku atau karakter, serta orang tua yang memeluk mereka dengan kasih sayang tanpa syarat.

Sebagai guru, kami harus memiliki impian yang besar untuk mereka. Tugas kami adalah
menuntun mereka agar mampu bertumbuh menjadi pribadi yang hebat, mandiri, serta memiliki karakter kuat yang mampu ditunjukkan kepada semua orang.

Kami ingin membuktikan bahwa di balik kekurangan yang kasat mata, mereka menyimpan kelebihan yang sangat istimewa yang perlu di asah menjadi karakter yang baik untuk masa depan nya kelak .

Di kelas ini, definisi keberhasilan mengalami pergeseran makna yang indah. Keberhasilan tidak lagi diukur dari nilai akademis yang tinggi, melainkan dari pencapaian-pencapaian kecil namun luar biasa seperti saat seorang murid mampu mengancingkan bajunya sendiri, atau ketika mereka berhasil merapikan alat makannya serta mampu untuk merapikan tempat tidur nya sendiri.

Keberhasilan kecil tersebut memberikan kebahagiaan yang sangat besar, baik bagi diri anak itu sendiri maupun bagi orang tuanya . Dari pengalaman itu, kami  belajar bahwa setiap kemajuan, sekecil apa pun, merupakan pencapaian yang patut dihargai dan dirayakan.

Refleksi dan Harapan

Selain menjalankan tugas mengajar, kam  juga belajar banyak tentang arti kesabaran yang
sesungguhnya, kedalaman rasa syukur, dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap
perbedaan.

Para murid di SLB PGRI Wonoasih membukakan mata batin kami, bahwa setiap individu memiliki potensi dan keunikan masing-masing.

Mereka tidak butuh dikasihani, mereka hanya membutuhkan kesempatan yang setara, dukungan yang tulus, dan pendekatan yang sesuai untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki serta kasih sayang dan perhatian.

Pengalaman mengajar di SLB PGRI Wonoasih ini telah mengukir kesan yang teramat mendalam dalam perjalanan hidup kita. Setiap tantangan harian yang kita hadapi tidak hanya memperkaya pengalaman mengajar secara profesional, tetapi juga menempa karakter kita menjadi pribadi yang lebih peduli, penyabar, dan menghargai keberagaman .

Kami berharap goresan kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk lebih memahami, menerima, dan mendukung pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.(*)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Advertisement
× Advertisement