Foto: Seorang warga mendinginkan diri di air mancur Spanyol. Sumber: El Pais
Jakarta, Global next.id – Gelombang panas ekstrem kembali menerjang Spanyol dan membawa dampak yang sangat mengkhawatirkan. Lebih dari 1.000 orang diperkirakan meninggal dunia akibat lonjakan suhu mendadak selama bulan Juni.
Angka ini mencatatkan rekor baru dalam sistem pemantauan kematian berlebih nasional. Bahkan Perdana Menteri Spanyol Pedro Sancez, pada Senin (27/7/2026) mengumumkan, sejak awal tahun 2026, orang meninggal dunia akibat Gelombang Panas di Spanyol mencapai 3800 orang,

Foto: perdana Menteri Spanyol Pedro Sancez saat mengumumkan jumlah korban gelombang panas di Spanyol, (27/7/3026). Sumber: tangkapan layar Youtube.
Para ahli kesehatan juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya ganda yang muncul dari kombinasi suhu tinggi dan tingkat polusi udara yang buruk.
Badan Meteorologi Nasional Spanyol (Aemet) mengategorikan kondisi bulan Juni lalu sebagai periode yang “sangat hangat”. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi cuaca yang menyimpang jauh di atas batas normal historis.
• Rata-rata Suhu Harian: Mencapai 23,2°C di wilayah semenanjung.
• Lonjakan Anomali: Suhu tersebut 1,8°C lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode 1991–2020.
• Rekor Historis: Lonjakan sebesar ini sangat signifikan karena penyimpangan cuaca biasanya hanya diukur dalam hitungan sepersepuluh derajat.
Catatan ini menempatkan bulan Juni lalu sebagai bulan Juni terpanas kedua sepanjang sejarah pencatatan Aemet sejak tahun 1961. Rekor terpanas pertama masih dipegang oleh Juni 2025, yang mencatatkan suhu rata-rata 23,6°C dengan anomali mencapai 2°C.
Suhu panas ekstrem bukan sekadar memicu rasa tidak nyaman saat beraktivitas di luar ruangan, melainkan menjadi ancaman nyata bagi keselamatan jiwa.
Sementara itu di Istana Kepresidenan Republik Indinesia, Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas dengan sejumlah menteri membahas antisipasi cuaca ekstrim dan kekeringan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjelaskan rapat itu membahas antisipasi cuaca ekstrim dan kekeringan termasuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan. Pada kesempatan yang sama Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan, lembaganya telah diminta menyiapkan teknologi yang dapat membangun ketahanan air di daerah-daerah.
Usai rapat terbatas, Menteri Infrastruktur Agus Hari Murti Yudoyono menjelaskan beberapa isu penting yaitu perihal kekurangan air dan Kahutla.
Didepan para awak media Ia mengatakan, sebagaimana disampaikan kepala BMKG pada rapat terbatas, bahwa ada tren lain yang harus diantisipasi bersama, yaitu jika Elnino masih berhimpit dengan masa kemarau, maka muncul isu ketersediaan air bersih dan Kebakaran hutan dan lahan.
Karena di beberapa propinsi seperti Riau, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan barat, Kalimantan Selatan dan sejumlah propinsi lainnya, baik pada lahan gambut maupun lahan non gambut, disitu sering muncul hotspot atau titik- titik api.
“Kita ingin memastikan bahwa pemerintah juga siap dengan satgasnya, baik satgas darat maupun udara dan termasuk dengan menjalankan operasi modifikasi cuaca,” terang Agus Harimurti usai mengikuti rapat terbatas.
Pewarta: Poerwandi.
Sumber: El Pais






Comment