Gambar: Ilustrasi AI
Oleh: Juli Purwaningsih
(Komunitas Menulis Bromo Pro Litera)
Probolinggo Kota, Globalnext.id – Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 28 ayat (1), anak usia dini adalah anak yang berada pada rentang usia 0–6 tahun.
Sementara itu, berdasarkan kajian keilmuan PAUD dan penyelenggaraannya di beberapa negara, pendidikan anak usia dini diberikan kepada anak berusia 0–8 tahun.
Kemendikbud (2015:25) menjelaskan bahwa satuan PAUD untuk kelompok usia 4–6 tahun dilaksanakan dengan lama belajar paling sedikit 900 menit setiap minggu.
Selain itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 butir 14 menyatakan bahwa PAUD merupakan upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir hingga usia enam tahun.
Pembinaan tersebut dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan agar membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani maupun rohani anak sehingga memiliki kesiapan memasuki jenjang pendidikan berikutnya.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan literasi pada anak usia dini agar mereka memiliki kesiapan berliterasi.
1. Bercerita
Guru dapat mengenalkan berbagai buku cerita kepada anak. Guru membacakan cerita, anak mendengarkan, kemudian menjawab pertanyaan tentang isi cerita.
Kegiatan ini melatih kemampuan anak dalam menyimak. Anak juga dapat melihat dan menikmati buku-buku cerita bergambar yang disediakan oleh guru.
Sebelum belajar membaca dan menulis, anak perlu mengembangkan kemampuan dasar yang menjadi landasan keberhasilan baca tulis, yaitu perkembangan bahasa (Snow & Tabors, 1998 dalam Pendidikan Anak Usia Dini karya Carol Seefeldt & Barbara A. Wasik).
Bahasa menjadi sarana utama dalam perkembangan membaca dan menulis. Kesadaran fonemik, pengetahuan tentang huruf, serta pemahaman terhadap huruf cetak merupakan kemampuan penting yang harus dimiliki anak sebelum memasuki pembelajaran membaca secara formal.
2. Menggambar
Menggambar menjadi salah satu kegiatan yang mendukung perkembangan literasi. Melalui kegiatan ini anak belajar membuat garis lurus, garis lengkung, garis miring ke kiri maupun ke kanan sebagai persiapan awal menulis.
Untuk melatih kelenturan jari, anak dapat diajak meremas-remas kertas koran. Kegiatan sederhana ini membantu memperkuat otot jari sehingga anak lebih siap memegang pensil atau krayon saat menulis maupun mewarnai.
3. Memberi Nama pada Benda di Sekitar Anak
Guru dapat memberi tulisan pada benda-benda yang ada di lingkungan sekitar, misalnya pada pintu diberi tulisan PINTU.
Melalui cara tersebut anak mulai mengenal huruf cetak sekaligus belajar alfabet.
Anak usia dini belajar mengenal huruf melalui interaksi dengan buku maupun berbagai bahan bacaan yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, guru sebaiknya memperbanyak tulisan yang mudah dilihat anak, misalnya di koridor, dinding sekolah, tempat sampah, halaman parkir, dan tempat lainnya.
Dengan bermain sambil belajar melalui kegiatan yang menyenangkan, guru dapat mengenalkan huruf, suku kata, maupun kata sederhana. Misalnya melalui permainan tebar huruf atau tebar angka.
4. Membuat Huruf Cetak
Ketika anak mulai tertarik pada buku dan huruf cetak, mereka akan memahami bahwa tulisan membawa makna dan pesan (Sulzby, 1986 dalam Pendidikan Anak Usia Dini karya Carol Seefeldt & Barbara A. Wasik).
Anak perlu dimotivasi untuk menulis sebagai sarana mengungkapkan ide dan pikirannya. Kemampuan menulis akan berkembang seiring semakin seringnya anak berinteraksi dengan huruf dan tulisan.
Guru dapat menyediakan buku dan pensil yang digunakan anak untuk berlatih menulis.
Dalam pembelajaran menulis permulaan, guru PAUD juga perlu berkoordinasi dengan guru SD mengenai cara penulisan pada buku kotak, jarak penulisan dari tepi kiri, serta jarak antarhuruf.
Koordinasi tersebut bertujuan mempermudah proses pembelajaran di sekolah dasar serta menghindari kebiasaan menulis yang kurang tepat dan sulit diperbaiki di kemudian hari.
Keberhasilan literasi anak juga dipengaruhi oleh kecepatan perkembangan setiap anak yang berbeda-beda, serta kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Sebagai agen pembelajaran, guru harus terus meningkatkan kompetensi pedagogiknya agar mampu mengenalkan literasi kepada anak dengan cara yang mudah dipahami, menarik, dan menyenangkan.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemampuan literasi perlu ditanamkan sejak anak usia dini. Proses pembelajarannya tidak sama dengan pembelajaran pada orang dewasa maupun anak yang lebih besar.
Literasi pada anak usia dini harus dikembangkan melalui kegiatan bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain yang menyenangkan.
Di samping itu, kompetensi pedagogik guru menjadi faktor penting agar pengenalan literasi dapat dipahami, dilaksanakan, dan akhirnya digemari oleh anak.(*)






Comment