Oleh: Rudy Hartono (AWPR)
Probolinggo, Globalnext.id – Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu daerah bersejarah di Provinsi Jawa Timur yang memiliki perjalanan panjang sejak masa kerajaan Hindu-Buddha, pemerintahan kolonial Belanda, hingga menjadi daerah otonom setelah Indonesia merdeka.
Secara historis, wilayah Probolinggo dikenal dengan nama Banger, yang pada masa pemerintahan kolonial menjadi pusat administrasi di kawasan pesisir utara Jawa Timur.
Nama “Probolinggo” diyakini berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu praba yang berarti sinar atau cahaya dan lingga yang berarti lambang atau tanda keagungan.
Dalam perkembangannya, penyebutan tersebut berubah menjadi “Probolinggo” dan digunakan sebagai nama wilayah hingga saat ini.
Sejarah mencatat, pada masa pemerintahan Raja Nata Kusuma I pada abad ke-18, nama Banger kemudian diubah menjadi Probolinggo sebagai simbol harapan akan kemakmuran dan kejayaan daerah.
Sejak saat itu, Probolinggo berkembang menjadi kawasan perdagangan dan pertanian yang strategis karena berada di jalur pantai utara Pulau Jawa.
Setelah Indonesia merdeka, Kabupaten Probolinggo secara resmi dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten di Lingkungan Provinsi Jawa Timur.
Saat ini, Kabupaten Probolinggo terdiri atas 24 kecamatan, 325 desa, dan 5 kelurahan, dengan wilayah yang membentang dari kawasan pegunungan hingga pesisir Selat Madura.
Selain dikenal sebagai daerah agraris, Kabupaten Probolinggo juga memiliki potensi besar di sektor pariwisata, khususnya dengan keberadaan kawasan Gunung Bromo yang menjadi destinasi wisata bertaraf internasional.
Kekayaan budaya, tradisi masyarakat, dan potensi ekonomi lokal menjadi bagian penting dalam pembangunan daerah.
Melalui pelestarian sejarah dan budaya, Pemerintah Kabupaten Probolinggo terus berupaya memperkuat identitas daerah sekaligus mendorong pembangunan yang berkelanjutan.
Sejarah panjang Kabupaten Probolinggo menjadi fondasi dalam mewujudkan daerah yang maju, sejahtera, dan berdaya saing, tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para pendahulu.(*)
Sumber: Pemerintah Kabupaten Probolinggo:
Kisah Raden Tumenggung Djojonegoro (Kanjeng Djimat):






Comment